Jumat, September 15, 2017

KEUTAMAAN SURAT 76 : AL - INSAN

Surah Al-Insan (Arab: الْاٍنسان , "Manusia") adalah surah ke-76 dalam al-Qur'an. SuraT ini
tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 31 ayat. Dinamakan Al-Insan yang berarti Manusia 
diambil dari kata Al-Insaan yang terdapat pada ayat pertama surah ini.
 
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
 
1.      Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?
2.      Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
3.      Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.
4.      Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala.
5.      Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.
6.      (yaitu) Mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.
7.      Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.
8.      Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
9.      Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
10.  Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.
11.  Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.
12.  Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.
13.  Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan.
14.  Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.
15.  Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca.
16.  (yaitu) Kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya.
17.  Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.
18.   (yang didatangkan dari) Sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.
19.  Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda.
20.  Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.
21.  Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.
22.  Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).
23.  Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur.
24.  Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.
25.  Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang.
26.  Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.
27.  Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat).
28.  Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka.
29.  Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya.
30.  Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
31.  Dan memasukkan siapa yang dikehendakinya ke dalam rahmat-Nya (surga). dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.
Pendahuluan
Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa surat ini Madaniyah (diturunkan di Madinah), akan tetapi sebenarnya ia diturunkan di Mekah; dan ke-Makkiyah­annya ini sangat jelas terlihat dalam temanya, susun­an kalimatnya, dan ciri-cirinya. Oleh karena itu, kami menguatkan riwayat-riwayat lain yang mengatakan bahwa ia Makkiyah. Bahkan, dari konteksnya kami melihat bahwa ia termasuk surat-surat Makkiyah yang futon pada masa-masa permulaan....
Surat ini melukiskan kenikmatan indrawi de­ngan lukisan yang terperinci dan panjang, dan melukiskan gambaran azab yang besar. Di samping itu juga memuat pengarahan kepada Rasulullah saw supaya bersabar terhadap keputusan Tuhannya, dan supaya tidak mengikuti orang-orang yang suka ber­buat dosa atau orang-orang kafir yang bersikap amat keras dan kasar mengganggu dakwah dan pelaku-­pelakunya di Mekah, juga supaya bersabar terhadap sikap kaum musyrikin yang mengabaikan dakwah tersebut. Selain itu juga dimantapkanlah hati Rasu­lullah saw terhadap kebenaran yang futon kepada beliau, dan agar tidak condong kepada sikap manis muka mereka, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Qalam, surat Al Muzzammil, dan surat Al ­Muddatstsir yang dekat sekali dengan isi pengarah­an surat ini....
Menetapkan kemungkinan bahwa surat ini sebagai surat Madaniyah menurut pendapat kami adalah kemungkinan yang lemah sekali, yang tidak perlu dihiraukan!
Surat ini secara keseluruhan berisi seruan yang berkumandang untuk melakukan ketaatan, untuk kembali kepada Allah, mencari ridha-Nya, meng­ingat nikmat-Nya, merasakan karunia-Nya, menjaga diri dari azab-Nya, menyadari ujian-Nya, dan me­mahami hikmah-Nya di dalam menciptakan, mem­beri nikmat, memberi ujian, dan memberi kesem­patan....
Surat ini dimulai dengan sentuhan yang lembut terhadap hati manusia: di manakah mereka berada sebelum menjadi manusia? Siapakah yang men­jadikan dirinya? Siapakah yang menjadikannya layak disebut-sebut dan menjadi percaturan di alam se­mesta ini? Padahal sebelumnya ia tidak pernah di­sebut-sebut dan belum ada wujudnya...?
'Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?" (Al Insaan: 1)
Sentuhan ini diikuti oleh sentuhan lain tentang hakikat asa- usul manusia dan kejadiannya, hikmah Allah di dalam menciptakannya, dan diberinya mereka bekal dengan bermacam-macam potensi dan pengetahuan,
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak meng­ujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat."(Al Insaan: 2)
Sentuhan ketiga adalah tentang pemberian pe­tunjuk-Nya ke jalan yang lurus, pertolongan-Nya kepada manusia untuk mengikuti petunjuk itu, dan dibebaskannya manusia setelah itu untuk memilih tempat kembalinya nanti,
"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kaftr. "(Al ­Insaan: 3)
Setelah diberikan tiga macam sentuhan yang mengesankan, yang memberi pengaruh yang dalam di dalam hati dan pikiran, supaya manusia menengok ke belakang, kemudian melihat ke depan, lantas mencurahkan perhatian untuk memilih jalan hidup. Sesudah diberikan ketiga sentuhan ini, surat ini menyeru manusia yang berada di persimpangan jalan agar berhati-hati, jangan sampai menempuh jalan menuju ke neraka, dan diajaknya mereka untuk menempuh jalan ke surga dengan mengguna­kan bermacam-macam bentuk targhib (persuasi, rayuan) dan dengan dibisikkannya bermacam­-macam kesenangan, kenikmatan, dan kemuliaan,
"Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (yaitu) mata air (dalam surga) yang darinya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya."(Al Insa.an: 4-6)
Sebelum melanjutkan pemaparan tentang bentuk-­bentuk kenikmatan itu, surat ini melukiskan ciri-ciri dan sifat-sifat orang-orang yang baik, baik itu dengan menggunakan kalimat-kalimat yang semuanya menggambarkan kehalusan, kelembutan, kebagus­an, dan kekhusyu’an yang sesuai dengan kenikmatan yang nyaman dan menyenangkan itu,
'Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesung­guhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak meng­hendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang­-orang bermuka masam penuh kesulitan. " (Al Insaan: 7-10)
Kemudian dipaparkanlah balasan bagi orang-orang yang rajin melaksanakan tugas-tugas dan ke­wajiban-kewajiban itu, yang takut kepada suatu hari yang ketika itu ada orang-orang yang bermuka masam penuh kesulitan, yang suka memberi makan kepada orang-orang yang membutuhkan (yakni orang-orang miskin), yang semuanya mereka laku­kan hanya untuk mencari keridhaan Allah saja, tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari seorang pun. Mereka hanya takut terhadap hari yang ketika itu ada wajah-wajah yang masam penuh ke­sulitan.
Dipaparkanlah balasan bagi orang-orang yang senantiasa takut kepada Allah, suka memberi makan kepada orang-orang miskin, dan suka berbuat baik kepada orang lain itu. Mereka mendapatkan balasan yang berupa keamanan, kemakmuran, dan kenik­matan yang lembut dan nyaman,
Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera. Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca. (yaitu) Kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (yang didatangkan dari) Sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan). (Al Insaan: 11-22)
Setelah memaparkan kenikmatan yang halus, nyaman, menenteramkan, menenangkan, dan me­nyenangkan ini maka beralihlah sasaran khithab (firman IIahi) ini kepada Rasulullah saw, untuk me­mantapkan hati beliau di dalam menghadapi tan­tangan, kekafiran, dan pendustaan orang-orang kafir; dan diberi-Nya beliau pengarahan supaya bersabar dan menunggu keputusan Allah dalam urusan ini, dan supaya beliau terus berhubungan dengan Tuhannya dan selalu memohon pertolongan kepada-Nya sepanjang jalan perjuangannya,
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an ke­padamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetap­an Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada­-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. " (Al Insaan: 23-26)
Kemudian diingatkannya mereka terhadap hari yang berat yang tidak dapat mereka perhitungkan, dan yang ditakuti oleh orang-orang yang baik-baik dan bertakwa, dan ditunjukkan kepada mereka betapa entengnya urusan mereka menurut pan­dangan Allah yang telah menciptakan mereka dan memberi kekuatan kepada mereka, sedang Dia berkuasa untuk melenyapkan mereka dan men­datangkan kaum yang lain. Kalau bukan karena karunia-Nya untuk membiarkan mereka eksis, niscaya sudah dimusnahkanlah mereka melalui cobaan-cobaan dan azab-Nya. Dan, pada bagian terakhir diberitahukanlah kepada mereka akibat dari ujian ini,
"Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai ke­hidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan per­sendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orangzalim disediakan-Nya azab yang pedih. "(Al­ Insaan: 27-31)
Surat ini dimulai dengan mengingatkan kejadian manusia dan ketentuan Allah dalam menciptakan mereka itu sebagai sasaran ujian, dan diakhiri de­ngan menerangkan akibat atau konsekuensi ujian tersebut, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah sejak menciptakannya dahulu. Dengan permulaan dan penutup yang demikian ini surat ini memberi petunjuk tentang apa yang ada di belakang kehidup­an ini, yaitu adanya rencana dan pengaturan, yang tidak boleh manusia mengabaikannya begitu saja, tanpa merenungkan dan memikirkannya, karena dia adalah makhluk yang diciptakan untuk diuji, dan dia sudah diberi karunia pemahaman dan pemikiran supaya selamat di dalam menghadapi ujian itu.
Di antara permulaan dan penutup terdapat lukis­an-lukisan Al Qur'an yang panjang tentang peman­dangan-pemandangan kenikmatan. Atau lukisan ini merupakan lukisan terpanjang apabila kita perhati­kan apa yang disebutkan di dalam surat Al Waaqi'ah di dalam menggambarkan bermacam-macam ke­nikmatan, yang secara garis besar merupakan ke­nikmatan indrawi, di samping penerimaan (amal) dan penghormatan.
Surat ini dengan perinciannya dan pemaparan keindraan kenikmatan itu memberikan kesan se­bagai surat Makkiyah, yang mana masyarakat waktu itu masih dekat dengan zaman jahiliah, masih kuat
Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera. Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca. (yaitu) Kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (yang didatangkan dari) Sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan). (Al Insaan: 11-22)
Setelah memaparkan kenikmatan yang halus, nyaman, menenteramkan, menenangkan, dan me­nyenangkan ini maka beralihlah sasaran khithab (firman IIahi) ini kepada Rasulullah saw, untuk me­mantapkan hati beliau di dalam menghadapi tan­tangan, kekafiran, dan pendustaan orang-orang kafir; dan diberi-Nya beliau pengarahan supaya bersabar dan menunggu keputusan Allah dalam urusan ini, dan supaya beliau terus berhubungan dengan Tuhannya dan selalu memohon pertolongan kepada­-Nya sepanjang jalan perjuangannya,
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an ke­padamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetap­an Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada­-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. " (Al Insaan: 23-26)
Kemudian diingatkannya mereka terhadap hari yang berat yang tidak dapat mereka perhitungkan, dan yang ditakuti oleh orang-orang yang baik-baik dan bertakwa, dan ditunjukkan kepada mereka betapa entengnya urusan mereka menurut pan­dangan Allah yang telah menciptakan mereka dan memberi kekuatan kepada mereka, sedang Dia berkuasa untuk melenyapkan mereka dan men­datangkan kaum yang lain. Kalau bukan karena karunia-Nya untuk membiarkan mereka eksis, niscaya sudah dimusnahkanlah mereka melalui cobaan-cobaan dan azab-Nya. Dan, pada bagian terakhir diberitahukanlah kepada mereka akibat dari ujian ini,
Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat). Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila kami menghendaki,Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan memasukkan siapa yang dikehendakinya ke dalam rahmat-Nya (surga). dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih. (Al­ Insaan: 27-31)
Surat ini dimulai dengan mengingatkan kejadian manusia dan ketentuan Allah dalam menciptakan mereka itu sebagai sasaran ujian dan diakhiri de­ngan menerangkan akibat atau konsekuensi ujian tersebut, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah sejak menciptakannya dahulu. Dengan permulaan dan penutup yang demikian ini surat ini memberi petunjuk tentang apa yang ada di belakang kehidup­an ini, yaitu adanya rencana dan pengaturan, yang tidak boleh manusia mengabaikannya begitu saja, tanpa merenungkan dan memikirkannya, karena dia adalah makhluk yang diciptakan untuk diuji, dan dia sudah diberi karunia pemahaman dan pemikiran supaya selamat di dalam menghadapi ujian itu.
Di antara permulaan dan penutup terdapat lukis­an-lukisan Al Qur’an yang panjang tentang peman­dangan-pemandangan kenikmatan. Atau lukisan ini merupakan lukisan terpanjang apabila kita perhati­kan apa yang disebutkan di dalam surat Al Waqi'ah di dalam menggambarkan bermacam-macam ke­nikmatan, yang secara garis besar merupakan ke­nikmatan indrawi, di samping penerimaan (amal) dan penghormatan.
Surat ini dengan perinciannya dan pemaparan keindraan kenikmatan itu memberikan kesan se­bagai surat Makkiyah, yang mana masyarakatwaktu itu masih dekat dengan zaman jahiliah, masih kuat bergantung kepada kesenangan-kesenangan indrawi (lahiriah) di mana kenikmatan-kenikmatan indrawi ini sangat menyenangkan dan menarik hati mereka. Kenikmatan macam ini memang senantiasa menarik perhatian banyak orang, dan layaklah mereka diberi balasan dengan sesuatu yang sangat menggem­birakan hatinya. Allah Maha Mengetahui tentang apa yang baik bagi mereka dan bagi hati mereka, dan apa yang sesuai dengan keberadaan dan perasaan mereka. Di sana terdapat sesuatu yang lebih tinggi dan lebih halus daripada itu sebagaimana yang disebut kan dalam surat Al Qiyaamah,
"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. " (Al Qiyaamah: 22-23)
Allah lebih mengetahui apa yang baik bagi hamba­-hamba-Nya dalam setiap keadaan.
Asal Usul Kejadian Manusia dan Tujuan Diciptakannya Mereka
'Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah men­ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larang­an), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan me­lihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. " (Al Insaan: 1-3)
Pertanyaan pada permulaan surat ini adalah lit­taqrir (untuk menetapkan); akan tetapi penyebut­annya dengan redaksional seperti ini seakan-akan untuk bertanya kepada diri manusia itu sendiri: apakah dia tidak mengetahui bahwa pernah datang kepadanya suatu masa yang waktu itu dia belum ber­ujud apa-apa yang dapat disebut? Kemudian, apakah dia tidak memikirkan dan merenungkan hakikat ini? Selanjutnya, mengapa dia tidak merenungkan pada dirinya suatu perasaan akan adanya tangan yang membawanya ke pentas kehidupan, memberinya cahaya, dan menjadikannya sesuatu yang dapat disebut padahal sebelumnya dia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut- sebut?
Banyak sekali isyarat yang keluar dari belakang kalimat tanya dalam konteks ini, yaitu isyarat isyarat yang halus dan mendalam, yang menebarkan ber­bagai renungan di dalam jiwa.
Pertama, mengarahkan jiwa manusia untuk me­renungkan kondisi sebelum diciptakannya manusia dan sebelum terwujudnya. Ia hidup dalam masa itu bersama alam, namun masih kosong dari manusia. Bagaimanakah keadaannya waktu itu...? Ma­nusia adalah makhluk yang terpedaya terhadap dirinya dan harga dirinya, sehingga ia lupa bahwa alam ini sudah ada dan sudah hidup dalam waktu yang amat panjang sebelum ia terwujud. Barangkali alam semesta sendiri tidak pernah mengharapkan diciptakannya makhluk yang bernama "manusia" ini, sehingga muncullah makhluk ini atas kehendak Allah.
Kedua, mengarahkan jiwa manusia untuk mere­nungkan saat diwujudkannya manusia di alam se­mesta ini, dan dimunculkannya bermacam-macam bayangan dan lukisan masa itu yang tidak ada yang mengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya kecuali Allah, dan merenungkan bagaimana keadaan semesta dengan ditambahkannya makhluk baru ini, yang sudah ditentukan urusannya di dalam per­hitungan Allah sebelum ia terwujud, yang diper­hitungkan peranannya di dalam program semesta yang panjang.
Ketiga, mengarahkan jiwa manusia untuk mere­nungkan tangan kekuasaan yang memunculkan makhluk baru ini ke panggung alam semesta, yang menyiapkannya untuk memainkan peranannya dan menyiapkan peranan untuk dimainkannya, dan mengikatkan benang-benang kehidupannya dengan poros semesta seluruhnya, dan telah menyiapkan untuknya kondisi-kondisi yang menjadikan ke­beradaannya dapat menunaikan peranannya dengan mudah. Dan sesudah itu, tangan kekuasaan itu masih terus mengikuti dan memantau setiap lang­kahnya, dengan mengikatnya dengan benang untuk memandunya bersama seluruh benang pengikat alam semesta yang besar ini. Masih banyak lagi isyarat dan renungan yang bermacam-macam, yang dilepaskan oleh nash ini di dalam nurani... yang membangkitkan kesadaran di dalam hati tentang adanya maksud, tujuan, dan ke­tentuan di dalam penciptaan insan dan alam semesta, di dalam perjalanan hidupnya, dan di tempat kembali­nya di akhirat nanti.
Adapun perkembangan manusia sesudah itu beserta keberadaannya, maka ia mempunyai cerita lain,
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak meng­ujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. " (Al Insaan: 2)
Al amsyaaj artinya yang bercampur ini boleh jadi mengisyaratkan adanya percampuran antara sel sperma laki-laki dan sel telur wanita setelah terjadi­nya pembuahan. Boleh jadi yang dimaksud dengan percampuran ini adalah warisan-warisan yang ter­simpan di dalam nuthfah, yang di dalam istilah ilmiahnya mereka namakan dengan "gen", yaitu plasma yang membawa sifat keturunan dari sese­orang kepada janin, yang karenanya nuthfah ma­nusia berproses untuk membentuk janin manusia, bukan janin makhluk hidup lainnya, sebagaimana ia juga mewariskan sifat sifat tertentu dalam keluarga... Mungkin juga yang dimaksud dengan percampuran ini adalah percampuran dari warisan-warisan yang beraneka macam....
Manusia diciptakan oleh tangan kekuasaan se­demikian rupa dari nuthfah yang bercampur, bukan­lah suatu hal yang sia-sia dan kebetulan belaka. Akan tetapi ia diciptakan untuk diuji dan diberi cobaan. Sedang Allah swt mengetahui siapakah gerangan manusia itu? Apakah ujian yang diberikannya? Dan, apa buah ujian itu? Akan tetapi, yang dimaksud ada­lah untuk memunculkannya di panggung kehidupan di alam semesta ini dengan segala tanggung jawab yang harus dipikulnya terhadap apa saja yang di­perbuatnya, kemudian diberi balasan sesuai dengan hasilnya.
Oleh karena itu, dijadikanlah dia dapat men­dengar dan melihat, yakni diberinya bekal dengan alat alat pemahaman, agar dia mampu menerima dan merespons, dan agar dapat mengerti segala sesuatu serta semua norma dan nilai, lantas memilahnya dan memilihnya, dan ia tempuhlah ujian itu sesuai de­ngan pilihannya.... Kalau begitu, iradah Allah mengembangkan jenis makhluk (manusia) ini dan pewujudan personAl personalnya dengan sarana yang telah ditentukan­-Nya, yang diciptakan-Nya dari nuthfah yang ber­campur... di belakangnya tentu ada hikmah-hikmah tertentu dan maksud-maksud tertentu, bukan sia-sia tiada guna.... Di belakangnya ada ujian dan cobaan. Oleh karena itu, diberi-Nyalah mereka perangkat untuk menerima dan merespons, memahami dan memilih. Dan segala sesuatu pada makhluk-Nya serta pembekalannya dengan perangkat-perangkat pengetahuan dan ujiannya dalam kehidupan... se­muanya dengan ukuran tertentu!
Kemudian, di samping pengetahuan, dia juga di­bekali kemampuan untuk memilih jalan, dan di­terangkan-Nya untuknya jalan yang bisa menyampaikan kepada-Nya. Setelah itu, dibiarkan-Nya dia untuk memilihnya sendiri, atau memilih jalan yang sesat dan menempuh jalan yang sesat itu, yang tidak dapat menyampaikannya kepada Allah,
"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. " (Al Insaan: 3)
Diungkapkannya petunjuk dengan kata "syukur" karena syukur merupakan getaran terdekat yang datang ke dalam hati orang yang mendapat pe­tunjuk, sesudah ia mengetahui bahwa dahulunya ia bukan merupakan sesuatu pun yang dapat disebut-sebut, lalu Tuhannya menghendakinya menjadi se­suatu yang dapat disebut, dan diberinya pendengar­an dan penglihatan, dan dibekalinya dengan kemampuan untuk memahami dan mengerti. Kemudian ditunjukkan kepadanya jalan dan dibiarkannya dia untuk memilihnya.... Syukur adalah getaran per­tama yang datang ke dalam hati yang beriman di dalam momentum ini. Karena itu, kalau dia tidak bersyukur, dia kafir.... Digunakannya bentuk kata "kafuur"ini adalah untuk menunjukkan intensitas kekafiran.
Manusia merasakan keseriusan urusan ini dan kecermatannya sesudah dikemukannya tiga macam sentuhan tersebut, dan tahulah ia bahwa ia adalah makhluk yang diciptakan untuk tujuan tertentu, ia terikat pada poros as, dan ia dibekali dengan pengetahuan dan pengertian, dan karena itulah ia akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban, dan ia di sini (di dunia ini) adalah untuk diuji dan untuk me­nempuh ujian itu. Maka selama masa hidupnya di muka bumi, adalah masa ujian yang harus ditem­puhnya, bukan masa untuk bermain dan bersenang-­senang serta berbuat yang sia-sia.
Dari tiga buah ayat pendek yang menelorkan renungan-renungan yang lembut dan mendalam, ditelorkan pulalah adanya beban berat yang harus dipikulnya yang harus dipertanggungjawabkannya dan harus disikapi dengan penuh keseriusan dan kepatuhan, yang harus diaplikasikan di dalam ke­hidupan ini, sebagai pelaksanaan ujian yang diharap­kan membawa hasil dan nilai yang baik. Ketiga ayat yang pendek ini mengubah pan­dangannya tentang tujuan keberadaannya, meng­ubah perasaannya tentang keberadaannya, dan mengubah pandangannya terhadap kehidupan dan nilainya secara umum.
Menuai Hasil Ujian Kehidupan
Selanjutnya, dipaparkanlah apa yang bakal di­peroleh manusia setelah menempuh ujian itu dan setelah memilih jalan kesyukuran atau kekafiran. Apa yang akan diperoleh orang-orang kafir, di­paparkan di dalam ayat-ayat berikut ini secara global, karena bayang-bayang surat ini adalah bayang­-bayang kemakmuran lahiriah dalam lukisan dan kesan, dan bayang-bayang panggilan persuasif ter­hadap kenikmatan yang menyenangkan. Adapun mengenai azab, maka diisyaratkannya secara global,
Sesungguhnya kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala. (Al Insaan: 4)
Rantai amuk kaki dan belenggu amuk tangan, dan neraka yang menyala-nyala yang orang-orang yang dirantai dan dibelenggu itu dilemparkan ke dalamnya. Kemudian cepat-cepat disebutkanlah kenikmat­an-kenikmatan yang banyak, maka dapatlah dipahami bahwa ia lebih manis daripada minuman dunia, dan kelezatannya berkali lipat melebihinya. Dan di dunia ini kita tidak bisa membandingkan kualitas dan jenisnya dengan ke­lezatan di surga nanti. Maka penyebutan sifat-sifat minuman ini hanyalah untuk mendekatkan kepada perasaan saja, karena Allah mengetahui bahwa manusia tidak mampu menggambarkan sesuatu yang gaib dan tersembunyi ini kecuali sebagaimana yang dilukiskan itu saja.
Penyebutan mereka pada ayat pertama dengan "abrar" (orang-orang yang suka berbuat kebajikan) dan pada ayat kedua dengan "ibaadullah" (hamba­-hamba Allah) adalah untuk menyenangkan, meng­hormati, dan mengumumkan keutamaannya suatu kali, dan pada kali lain untuk menunjukkan ke­dekatannya kepada Allah dalam hamparan nikmat dan kemuliaan. Kemudian diperkenalkanlah sikap hidup orang-orang baik sebagai hamba-hamba Allah itu yang telah dipastikan mendapatkan kenikmatan dan ke­senangan ini dengan firman-Nya,
Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (Al Insaan 7-10)
Inilah gambaran yang jelas dan transparan pada hati yang lurus, serius, dan kuat kemauannya untuk menunaikan tugas-tugas akidahnya karena Allah disertai dengan rasa kasih sayang yang teduh terhadap sesama hamba-hamba Allah yang lemah, bersikap lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, merasa sedih dan takut kepada Allah, mengharapkan ridha-Nya, dan takut akan azab-Nya yang dipicu oleh ketakwaannya dan keseriusannya di dalam memandang kewajibannya yang berat.
'Mereka menunaikan nazar'; maka dilaksanakanlah ketaatan-ketaatan yang sudah menjadi tekadnya, ditunaikanlah kewajiban-kewajibannya. Mereka lak­sanakan urusan itu dengan serius dan tulus, dan tidak berusaha melakukan tipu daya untuk melepas­kan diri dari tanggung jawab, tidak ingin melepaskan beban dan tugasnya setelah bertekad untuk melaksanakannya. Inilah makna dari "mereka menunai­kan nazar". Kalimat ini lebih luas cakupannya dari­pada pengertian "nazar" menurut tradisi sebagai­mana yang dipahami sepintas kilas oleh manusia.
'Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. ".... Mereka mengerti betul sifat dan keadaan hari kiamat itu, yang keburukan dan azabnya merata di mana-mana, dan menimpa orang-orang yang suka mengabaikan kewajiban dan berbuat jahat. Maka mereka takut jangan sampai azab-Nya mengenai dirinya.
Hal ini menunjukkan kerasnya langkah Mekah di kalangan kaum musyrikin, bahwa mereka tidak menaruh perhatian sedikit pun terhadap orang-orang lemah yang membutuhkan pertolongan, meskipun mereka biasa mengorbankan. Begitulah tanda orang-orang yang bertakwa, yang merasakan betapa beratnya kewajiban dan besarnya tugas yang diembannya, yang merasa takut ­jangan-jangan ia menguranginya dan tidak menunaikannya dengan sempurna, meski bagaimanapun mereka telah melakukan pendekatan dan ketaatan kepada Allah.
'Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang di­tawan. " (A1-Insaan: 8)
Ayat ini menggambarkan perasaan yang baik, lembut, dan bagus yang tercermin dalam tindakan memberi makan orang-orang miskin, padahal dia sendiri mencintainya karena membutuhkannya. Ter­hadap hati semacam ini tidak pantas dikatakan bahwa ia suka memberi makan kepada orang-orang lemah yang membutuhkannya dengan makanan yang tidak ia perlukan. Sebenarnya ia sendiri me­merlukan makanan itu, akan tetapi ia lebih memen­tingkan orang-orang yang lebih membutuhkannya.
Harta yang banyak untuk berbangga-banggaan. Adapun hamba-hamba Allah yang baik itu, maka mereka adalah sumber air yang sejuk di tengah panasnya ke­bakhilan ini. Mereka memberi makan kepada orang-orang miskin dengan jiwa yang lapang, dengan hati yang penuh kasih sayang, dengan niat yang ikhlas dan bersih dari tujuan yang bukan-bukan, dan selalu menghadap kepada Allah dengan melakukan ber­bagai amalan, sebagaimana diceritakan keadaan mereka oleh ayat ayat itu, dengan bahasa yang me­nyentuh kalbu.
"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. " (AInsaan: 9-10)
Inilah kasih sayang yang melimpah dari hati yang lembut dan penyayang, yang selalu menghadap kepada Allah untuk mendapatkan ridha-Nya, dan tidak mencari balasan dari makhluk dan tidak pula mengharapkan ucapan terima kasih dari orang lain, tidak bermaksud mencari popularitas dan menyombongi atau mengungguli orang-o rang yang berkeper­luan itu. Mereka lakukan semua itu karena hendak menjaga diri dari bencana hari kiamat yang men­jadikan orang bermasam muka penuh kesulitan, yang ia takuti mengenai dirinya, yang ia jaga dan lindungi dirinya dengan melakukan pemeliharaan dan penjagaan semacam ini. Rasulullah saw pun telah memberi petunjuk kepada mereka dengan sabdanya,
Jagalah  dirimu dari api neraka walaupun dengan mem­beri bantuan-separo butir kurma."
Memberi makan secara langsung seperti ini merupakan implementasi dari jiwa yang lembut, cerdas, dan mulia, dan sebagai jalan untuk me­menuhi kebutuhan orang-orang yang membutuh­kan. Akan tetapi, bentuk-bentuk kebaikan dan ­caranya berbeda-beda sesuai dengan lingkungan dan kondisi. Oleh karena itu, tidak dibayangkan dalam gambaran ini secara mendasar dan langsung, melainkan bahwa yang harus dijaga adalah perasaan hati, hidupnya perasaan, dan keinginan terhadap kebaikan karena mengharapkan ridha Allah, dan membersihkannya dari motivasi-motivasi duniawi seperti menginginkan balasan, ucapan terima kasih, atau kemanfaatan hidup lainnya.
Telah diatur jenis-jenis bantuan, telah diwajibkan tugas-tugas, dan telah ditentukan tanggung jawab sosial, dan tindakan-tindakan untuk memenuhi ke­butuhan-kebutuhan orang yang berkebutuhan. Akan tetapi, semua ini baru satu sisi saja dari sisi-sisi pengarahan Islam yang dipaparkan dalam ayat-ayat tersebut, dan yang dimaksud adalah kewajiban zakat.... Bagian ini adalah untuk memenuhi ke­butuhan orang-orang yang membutuhkan bantuan.... Sedang bagian lain adalah membersihkan jiwa orang-orang yang memberikan bantuan itu, dan meng­angkatnya kepada posisi yang mulia. Ini merupakan sisi yang tidak boleh dilupakan dan diremehkan, apalagi dibalik tolok ukurnya lalu dicacat, dijelek-­jelekkan, dan dinodai, dan dikatakan bahwa yang demikian itu berarti menghina orang-orang yang menerima dan merusak yang memberi.
Islam adalah akidah bagi hati dan manhaj tarbiyah 'sistem pendidikan' bagi hati ini. Hati yang mulia akan mendidik pemiliknya dan suka memberi manfaat kepada saudara-saudaranya yang datang meng­hadap kepadanya. Maka cukuplah bagi hati dengan kedua sisi pendidikan yang dimaksudkan oleh agama ini untuknya. Oleh karena itu, terlukislah. sesuatu yang bagus bagi perasaan atau hati yang mulia ini,
Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. (A1 Insaan: 11)
Rangkaian ayat ini begitu cepat menyebut pe­meliharaan Allah kepada mereka dari kesusahan hari itu yang sangat mereka takuti, untuk me­nenteramkan hati mereka di dunia ketika mereka sedang menghadapi Al Qur'an ini dan membenar­kannya. Disebutkan bahwa mereka akan mendapatkan pencerahan wajah dan kegembiraan dari Allah, dan hari kiamat itu baginya bukan hari bermuram durja yang penuh dengan kesulitan, sebagai balasan yang sesuai dengan rasa takut mereka kepada Allah dan kengerian hari itu ketika hidup di dunia, dan sesuai dengan kesejukan hati mereka dan kecerahan perasaan mereka.
'Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena ke­sabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra," (Al Insaan: 12)
 Surga yang mereka tempati dan sutra yang mereka pakai.
'Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. " (Al ­Insaan: 13)
Mereka duduk bersantai ria, sedang udara di sekitarnya segar dan nikmat, hangat, tetapi tidak panas dan gerah, segar tapi tidak dingin. Tidak ada terik matahari yang menyengat, tidak pula dingin yang sangat. Dapatlah kita katakan bahwa alamnya adalah alam yang lain, yang di sana tidak ada mata­hari seperti matahari kita, dan tidak ada matahari­matahari lain seperti di dalam tata surya kita.... Cukuplah kita katakan begitu saja!
'Dan naungan (pohon pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya se­mudah-mudahnya."(A1-Insaan: 14)
Apabila naungan rerimbunan pohon-pohon surga dekat kepada mereka, dan buah-buahannya mudah diambil, maka inilah kesenangan dan kenikmatan yang dapat dijangkau oleh khayalan.
Inilah kondisi umum bagi surga yang akan di­balaskan Allah buat hamba-hamba-Nya yang baik­baik yang dilukiskan sifat-sifatnya oleh ayat-ayat di atas dengan gambaran yang bagus, lembut, dan cerah di dunia.... Kemudian datanglah perincian kenikmatan dan layanan di sana
'Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-­kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya? Dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil."(A1-Insaan: 15-18)
Mereka berada di dalam kesenangan dan ke­nikmatan, sambil duduk-duduk di antara naungan dedaunan yang rimbun dan buah-buah­annya yang dekat serta udaranya yang segar.... Diedarkan kepada mereka minuman-minuman di dalam bejana-bejana perak dan gelas-gelas perak, akan tetapi peraknya jernih bagaikan kaca, yang belum pernah ada di dunia bejana perak yang seperti itu. Bejana-bejana yang besarnya telah diukur sedemikian rupa sehingga terlihat apik dan indah. Kemudian minumannya dicampur dengan zanjabil dan adakalanya dicampur dengan kaafur. Bejana­-bejana dan gelas-gelas perak itu suci dari mata air yang bernama Salsabil, karena sangat tawar dan segar bagi orang-orang yang meminumnya!
Untuk menambah kenikmatan, maka yang me­rgedarkan bejana bejana dan gelas-gelas yang berisi minuman ini adalah anak-anak kecil dengan wajah yang cerah ceria, yang tidak pernah dimakan masa dan usia. Mereka abadi dalam usia muda dan usia anak-anak yang lucu-lucu dan ceria. Mereka di sini dan di sana bagaikan mutiara yang bertaburan,
'Dan mereka dikelilingi oleh pelaya- pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. "(Al Insaan: 19)
Kemudian, secara global ayat berikutnya me­lukiskan garis-garis pemandangan itu, dan mem­berikan pemandangan yang sempurna yang di­ringkas di dalam hati dan pandangan,
'Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai kenikmatan dan kerajaan yang besar. " (Al Insaan: 20)
Kenikmatan dan kerajaan yang besar. Di sanalah hidup hamba-hamba Allah yang baik-baik dan dekat kepada-Nya. Kehidupan yang dilukiskan secara garis besar dan umum. Kemudian disebutkan secara khusus salah satu bentuk kenikmatan dan kerajaan yang besar itu, seakan-akan sebagai penjabaran dan penafsiran terhadap keglobalan di atas,
'Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. "(Al Insaan: 21)
Sundus adalah sutra halus dan istibrag adalah sutra tebal.... Perhiasan dan kenikmatan ini semua mereka terima dari Tuhan mereka. Itu adalah pemberian yang mulia dari Maha Pemberi Yang Maha Mulia. Dan, ini menambah nilai kenikmatan itu! Kemudian mereka peroleh pula kasih sayang dan penghormatan,
"Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usaha­mu adalah disyukuri (diberi balasan). " (Al Insaan: 22)
Mereka terima ucapan ini dari alam tertinggi, dan ucapan ini sebanding dengan seluruh kenikmatan itu, dan memberikan nilai tersendiri yang melebihi nilai kenikmatan itu sendiri. Demikianlah paparan terperinci dan bisikan yang mengesankan di dalam hati, bisikan terhadap ke­nikmatan yang bagus itu dan keterbebasan dari rantai, belenggu, dan api neraka yang menyala-­nyala.... Memang terdapat dua jalan kehidupan, jalan yang satu membawa manusia ke surga dan yang satunya lagi membawa ke neraka!
Pengarahan buat Rasulullah saw
Setelah selesai menyampaikan panggilan ke surga dan kenikmatannya yang nyaman dan menyenang­kan, maka dipecahkanlah keadaan kaum musyrikin yang terus-menerus menentang dan mendustakan, yang tidak mengerti hakikat dakwah, lantas mereka melakukan penawaran kepada Rasulullah saw agar beliau menghentikan dakwahnya, atau berhenti dari mencela mereka. Di antara penawaran mereka ke­pada Nabi saw dan memfitnah kaum mukminin, mengganggu mereka, menghalangi mereka dari jalan Allah, dan berpaling dari kebaikan, surga, dan kenikmatan... di antara semua ini datanglah segmen terakhir dalam surat ini untuk memecahkan sikap demikian itu dengan metode Al Qur'anul Karim,
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetap­an Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.
Karena, mencegah manusia dari bergabung di bawah bendera akidah itu kadang-kadang lebih mudah daripada memfitnah orang-orang yang telah mengetahui hakikat akidah itu dan telah merasa­kannya.
Kedua, berusaha membujuk dan merayu Rasu­iullah saw di samping mengancam dan meng­ganggu agar mau berkompromi dengan mereka di tengah jalan dan menghentikan celaan terhadap akidah, tata aturan, dan tradisi mereka, dan mau berdamai dengan mereka terhadap sesuatu yang ia sukai dan disukai oleh mereka, sebagaimana yang biasa dilakukan manusia yang di tengah perjalanan­nya ketika terjadi perselisihan lantas mereka mau melakukan kompromi terhadap kepentingan-ke­pentingan, keuntungan-keuntungan materi, dan terhadap urusan-urusan tanah air ini.14
Cara-cara begini atau yang serupa dengannya merupakan sesuatu yang selalu dihadapi oleh juru dakwah ke jalan Allah di setiap tempat dan setiap generasi. Nabi saw, meskipun beliau seorang Rasul yang dipelihara Allah dari fitnah dan dilindungi-Nya dari gangguan manusia, namun beliau juga seorang manusia biasa yang menghadapi kenyataan yang berat di kalangan minoritas mukminin yang lemah, dan Allah tentu mengetahui hal ini; karena itu tidak dibiarkan-Nya beliau sendirian, dan tidak dibiarkan­nya menghadapi kenyataan berat ini dengan tanpa pertolongan dan pengarahan kepada petunjuk-pe­tunjuk dan rambu-rambu. Ayat ayat ini memuat hakikat pertolongan, bantuan, dan pengarahan itu,
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qur’an kepadamu (haiMuhammad) dengan berangsur-angsur." (Al Insaan: 23)
Inilah perhatian pertama terhadap sumber pe­nugasan dakwah ini dan sumber hakikatnya bahwa dakwah ini adalah dari Allah; Dia adalah sumber dakwah satu-satunya dan Dialah yang menurunkan Al Qur'an, maka tidak ada sumber lain bagi dakwah dan tidak mungkin dicampur hakikatnya dengan sesuatu yang lain yang tidak mengalir dari sumber ini. Sumber selain ini tidak boleh diterima, tidak boleh dipakai, dan tidak boleh dipinjam untuk me­netapkan akidah ini, juga tidak boleh dicampur dengan sesuatu apa pun.... Kemudian, Allah yang telah menurunkan Al Qur'an dan memberi tugas untuk mendakwahkan Al Qur'an ini tidak akan membiarkan dakwah itu dan tidak akan membiarkan juru dakwahnya, karena Dialah yang menugas­kannya dan menurunkan Al Qur'an kepadanya.
Akan tetapi, kebatilan terus merebak, keburukan terus meluas, gangguan menimpa orang-orang mukmin, dan fitnah terus memantau mereka. Sarana penghalangan dari jalan Allah dikuasai oleh musuh-­musuh dakwah, dilakukan, dan terus dijalankan, melebihi keajegan mereka membela akidahnya, undang-undangnya, tradisinya, kerusakannya, dan keburukan-keburukan yang mereka masuki. Kemu­dian mereka menawarkan perdamaian, membagi negara menjadi dua, dan bertemu di tengah jalan.... Ini merupakan tawaran yang sukar ditolak dalam kondisi sulit seperti itu.
Di sini datanglah peringatan kedua,
'Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ke­tetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. " (A1­ Insaan: 24)
Urusan-urusan itu digantungkan kepada qadar Allah. Dia memberi kesempatan kepada kebatilan dan keburukan, member waktu yang panjang untuk memberi ujian dan cobaan kepada orang-orang yang beriman. Semua itu karena adanya hikmah yang hanya Dia yang mengetahui, yang dengannya Dia jalankan qadar-Nya dan Dia laksanakan ketetapan­Nya..., 'Maka bersabarlala kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu ketika tiba waktu yang di­tentukan.... Bersabarlah terhadap gangguan dan fitnah. Bersabarlah menghadapi kebatilan yang menang, dan kejahatan yang berkembang. Kemudian lebih bersabarlah berpegang pada kebenaran yang diberikan kepadamu yang diturunkan bersama Al Qur'an. Bersabarlah dan janganlah kamu dengar tawaran mereka untuk berdamai dan berkompromi di tengah jalan menurut perhitungan akidah, 'Dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. "Karena mereka tidak akan mengajakmu kepada ketaatan, kebajikan, dan ke­baikan, sebab mereka adalah orang-orang yang suka berbuat dosa dan melakukan kekufuran. Mereka hanya akan mengajakmu kepada dosa dan ke­kufuran ketika mereka mengajakmu untuk ber­kompromi di tengah jalan dakwahmu, dan ketika mereka menawarkan kepadamu sesuatu yang mereka kira akan menyenangkanmu dan memuaskanmu.
Mereka memberikan tawaran kepada beliau untuk menjadi penguasa, untuk mendapatkan harta yang menyenangkan, dan untuk mendapatkan ke­nikmatan fisik. Maka mereka menawarkan ke­padanya kedudukan dan kekayaan, hingga beliau menjadi orang yang paling kaya di antara mereka, sebagaimana mereka menawarkan kebaikan-kebaikan (duniawi) yang sarat dengan fitnah, ketika utbah bin Rabi'ah berkata kepada beliau, "Tinggalkanlah tugas dakwah ini nanti kukawinkan engkau dengan putriku, karena aku adalah orang Quraisy yang memiliki putri-putri yang cantik-cantik...." Semua tawaran yang diberikan para pemeluk kebatilan itu adalah untuk membeli para juru dakwah di setiap bumi dan setiap generasi!
'Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ke­tetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. " (Al­ Insaan: 24)
Karena tidak ada kompromi antara engkau dan mereka, serta tidak mungkin dapat dipasang jem­batan penyeberangan di atas jurang yang luas yang memisahkan antara manhajmu dan manhaj mereka, dan pandanganmu dengan pandangan mereka terhadap alam wujud, yang memisahkan antara ke­benaranmu dan kebatilan mereka, keimananmu dengan kekafiran mereka, cahayamu dengan ke­gelapan mereka, dan antara pengetahuanmu ter­hadap kebenaran dengan kejahilan dan kejahiliahan mereka.
Bersabarlah, walaupun masanya panjang, fitnah­nya berat, tipu dayanya kuat, dan jalannya juga panjang. Akan tetapi bersabar itu berat dan membutuhkan perbekalan dan faktor penunjang yang jelas,
'Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. " (Al Insaan: 25-26)
Inilah bekal itu! Sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang, dan bersujudlah dan ber­tasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang..., karena yang demikian itu adalah berhubungan dengan sumber yang telah menurunkan Al Qur'an kepadamu, dan memberikan jaminan kepadamu di dalam melaksanakan dakwah. Dialah sumber kekuatan, perbekalan, dan pertolongan.... Berhubungan dengan-Nya melalui berzikir, beribadah, berdoa, dan bertasbih dalam malam yang panjang.... Karena jalan dakwah itu panjang dan bebannya berat, dan sudah tentu membutuhkan perbekalan yang banyak dan dukungan yang besar. Di sanalah, di malam panjang itu, ketika ia bertemu dengan Tuhannya di malam sunyi, dalam bisikan syahdu, dalam kecerah­an dan dalam keluluhan jiwa di hadapan IIahi, me­mancarlah kekuatan untuk memikul tugas dan beban, memancarlah darinya kekuatan bagi ke­lemahan dan keminoritasan. Pada waktu itu ruh dapat merasakan perasaan-perasaan dan kesibukan-­kesibukan yang kecil-kecil dan lembut-lembut, dan melihat tugas yang agung dan amanat yang besar, sehingga terasa kecil duri-duri dan hambatan-ham­batan yang ditemuinya di tengah jalan.
Sesungguhnya Allah Maha Penyayang. Ia men­jamin dakwah hamba-Nya, menurunkan Al Qur'an kepadanya, serta mengetahui beban-beban tugasnya dan hambatan-hambatan jalannya. Karena itu, tidak dibiarkan-Nya Nabi-Nya saw tanpa pertolongan dan bantuan. Bantuan yang diberikan Allah swt ini merupakan bekal yang sebenarnya serta layak bagi perjalanan berat di jalan yang penuh duri itu.... itulah bekal ashhabud-dakwah 'para pelaku dakwah' ke jalan Allah di setiap tempat dan setiap generasi, karena dakwah itu adalah satu, kondisi yang dihadapinya adalah satu jua, sikap kebatilan terhadapnya adalah satu, sebab-sebab yang menjadikan orang bersikap demikian adalah satu, dan sarana sarana kebatilan itu sendiri pada dasarnya adalah satu. Oleh karena itu, hendaklah sarana-sarana dan jalan jalan kebenaran itu adalah sarana-sarana yang diketahui Allah sebagai sarana-sarana jalan dakwah ini.
Hakikat yang seharusnya para juru dakwah hidup di dalamnya adalah hakikat yang diberitahukan Allah kepada shahibud-da'wah pertama Nabi saw, yaitu bahwa penugasan dakwah itu turun dari sisi Allah, karena Dia adalah pemilik dakwah itu, dan kebenar­an yang diturunkan-Nya tidak mungkin boleh di­campur dengan kebatilan yang diserukan oleh orang-orang yang suka berbuat dosa dan kafir itu. Oleh karena itu, tidak ada kerja sama antara kebenar­an dan kebatilan, karena keduanya merupakan dua sistem yang berbeda, dan dua jalan yang tidak mungkin bertemu. Adapun jika kebatilan dengan segala kekuatan dan pasukannya dapat mengalahkan golongan mukmin yang minoritas dan lemah, maka hal itu adalah untuk suatu hikmah yang hanya Allah yang mengetahuinya. Karena itu, diperlukan kesabaran sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Hendaklah terus memohon kekuatan dan per­tolongan kepada Allah dengan berdoa dan bertasbih pada-Nya pada malam-malam yang panjang, untuk menjadi bekal di dalam menempuh jalan ini.... Sungguh ini merupakan hakikat yang besar yang harus dimengerti dan dijalani dalam kehidupan para penempuh jalan dakwah ini....
Cinta Dunia
Selanjutnya, ditegaskan lagi persimpangan antara manhaj Rasulullah saw dan manhaj jahiliah, bahwa mereka lupa melihat kebaikan buat diri mereka, bahwa cita-cita mereka sangat rendah, dan pandang­an mereka sangat kerdil. Allah berfirman,
Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai ke­hidupan dunia dan mereka tidak mempedulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat)." (Al Insaan: 27)
Mereka yang sangat rendah keinginan dan cita­-citanya, yang kecil tuntutannya dan kerdil pan­dangannya.... Mereka yang kecil dan hina serta tenggelam dalam kehidupan duniawi dan tidak memperdulikan hari yang berat, berat tanggung jawabnya, berat akibatnya, dan berat timbangannya dalam timbangan yang sebenarnya..., mereka ini tidak pantas diikuti jalan hidupnya, tidak pantas berkompromi dengan orang-orang mukmin dalam tujuan dan cita-cita hidup. Tidak layak dihiraukan apa yang ada pada mereka dari kehidupan dunia ini, seperti kekayaan, kekuasaan, dan kesenangan, karena semua itu hanya akan berlangsung singkat dan segera lenyap. Kesenangan dan kekayaan mereka itu hanya sedikit, sedang mereka sendiri adalah orang-orang yang kerdil dan hina.
Kemudian ayat itu mengisyaratkan betapa mereka tidak memikirkan kebaikan yang hakiki bagi dirinya sendiri. Karena itu, mereka memilih kehidupan dunia yang akan segera lenyap dan tidak mempedulikan hari yang berat yang sudah menantikan mereka di sana dengan rantai untuk merantai kakinya dan belenggu untuk membelenggu tangannya, serta api neraka yang menyala-nyala, setelah menjalani hisab dengan sangat sulit. Maka ayat ini merupakan kelanjutan ayat di atas untuk memantapkan hati Rasulullah saw dan orang-orang mukmin bersama beliau, di dalam meng­hadapi orang-orang yang telah diberi kesenangan dari kehidupan duniawi ini, di samping sebagai ancaman bagi pecinta-pecinta dunia itu dengan hari yang berat.
Ayat berikutnya masih memaparkan kehinaan urusan mereka di sisi Allah yang telah memberikan mereka kekuatan dan keperkasaan, padahal Allah berkuasa untuk melenyapkan mereka dan meng­gantinya dengan yang lain. Akan tetapi, Allah mem­biarkan mereka karena suatu hikmat sesuai dengan qadar-Nya terdahulu,
"Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka, apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka. " (Al Insaan: 28)
Poin ini mengingatkan orang-orang yang mem­bangga-banggakan kekuatannya, dengan menunjukkan kepada mereka sumber kekuatan itu sendiri, bahkan sumber keberadaan mereka sendiri. Kemu­dian ditenangkanlah hati orang-orang yang beriman­ ketika mereka dalam kondisi lemah dan dalam jumlah yang sedikit bahwa yang memberi kekuatan itu adalah Tuhan yang mereka menisbatkan diri kepada-Nya dan menjalankan dakwah-Nya, sebagai­mana ayat ini juga menetapkan di dalam jiwa mereka akan hakikat qadar Allah dan hikmah yang dimak­sudkan di belakangnya, yang segala peristiwa ber­jalan sesuai dengannya, hingga Allah memutuskan semua urusan, sedang Dia adalah sebaik-baik pem­beri keputusan.
'Apabila Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan orang-orang yang serupa dengan mereka.... "
Maka mereka dengan kekuatannya tidak akan dapat melepaskan diri dari kekuasaan Allah, karena Allahlah yang menciptakan mereka dan memberi kekuatan kepada mereka. Dia berkuasa menciptakan orang-orang yang seperti mereka untuk meng­gantikan mereka.... Nah, apabila Allah memberi tangguh kepada mereka dan tidak mengganti mereka dengan orang-orang lain seperti mereka, maka yang demikian itu adalah karunia-Nya dan nikmat Nya, dan itu sudah menjadi keputusan-Nya dan kebijak­sanaan-Nya....
Dari sini maka ayat ini sebagai susulan untuk memantapkan hati Rasulullah saw dan orang-orang yang bersama beliau, dan amok menetapkan hakikat kedudukan mereka dan kedudukan orang lain. Se­bagaimana ayat ini juga merupakan sentuhan ter­hadap hati orang-orang yang tenggelam dalam ke­hidupan dunia, yang terpedaya oleh kekuatan keluarganya, agar mereka mengingat nikmat Allah, yang mereka bangga-banggakan tetapi tidak mereka syukuri, dan agar mereka menyadari adanya ujian yang tersembunyi di balik nikmat ini, yaitu ujian yang telah ditetapkan buat mereka pada permulaan surat.
Kemutlakan Kehendak Allah
Kemudian diingatkannya mereka terhadap ke­sempatan yang diberikan kepada mereka dan Al­\Qur'an menawarkan kepada mereka, dan surat ini pun mengingatkan mereka,
"Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringat­an, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya." (Al Insaan: 29)
Kemudian poin ini diakhiri dengan menyebutkan kemutlakan kehendak Allah dan dikembalikannya segala sesuatu kepada-Nya, agar arah terakhir adalah kepadanya (kehendak Allah), dan kepasrahan ter­akhir kepada keputusan-Nya, dan agar manusia melepaskan kekuatannya dan menghimpunkan kepada kekuatan kehendak-Nya, dan daya upayanya kepada daya upaya-Nya.... Inilah Islam yang sebenarnya,
'Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), ke­cuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. " (Al Insaan: 30)
Hal itu supaya hati manusia mengerti bahwa Allah itu berbuat dan berkehendak, yang bertindak dan Maha Kuasa, sehingga hati itu mengetahui bagai­mana ia menghadap kepada-Nya dan menyerah kepada kekuasaan-Nya. Dan ini adalah lapangan hakikat ini, yang di lapangan inilah ia berlaku se­bagaimana disebutkan dalam nash-nash seperti ini, di samping menetapkan apa yang dikehendaki Allah buat mereka, amok memberi kemampuan kepada mereka buat mengetahui yang hak dan yang batil, dan memilih arah kepada yang ini atau yang itu, sesuai dengan kehendak Allah Yang Maha Mengeta­hui terhadap hakikat hati. Dan apa saja yang diberi­kan Allah kepada hamba-hamba-Nya seperti pe­ngetahuan dan pengertian, penjelasan tentang jalan kehidupan, pengutusan para Rasul, dan penurunan Al Qur’an, semua ini berujung pada qadar Allah, yang menjadi tempat berlindungnya orang yang berlindung, lantas ia mendapat taufik untuk sadar dan taat. Apabila ia tidak mengetahui di dalam hati­nya terhadap hakikat kekuasaan yang berlaku, dan tidak berlindung kepadanya agar menolongnya dan memberinya kemudahan, maka dalam hati yang de­mikian ini tidak terdapat petunjuk dan kesadaran, dan tidak ada taufik (pertolongan) kepada kebaikan....Karena itu,
'Dia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih." (Al Insaan: 31)
Itulah kehendak mutlak yang bertindak sesuai kehendaknya. Dan, di antara kehendaknya ialah memasukkan ke dalam rahmat-Nya orang yang dikehendaki-Nya, yaitu orang-orang yang mencari perlindungan kepada-Nya, yang mencari perto­longan kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, dan memohon taufik-Nya supaya diberi petunjuk.
'Dan bagi orang-orang yang, zalim disediakan-Nya azab yang pedih. "
Mereka telah diberi tempo dan diberi kesem­patan, amok sampai kepada azab yang pedih ini. Penutup ini serasi benar dan dengan bagian per­mulaan dan menggambarkan akhir ujian, yang amok diuji inilah Allah menciptakan manusia dari nuthfah yang bercampur, dan diberi-Nya pendengaran dan penglihatan, serta ditunjukkannya jalan ke surga atau ke neraka ....

 http://rijaluldakwah.blogspot.co.id/2011/09/surat-al-insan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar