Sekitar satu bulan sebelum pelaksanaan MOGSEC - 2014 ( Malaysia Oil & Gas Services Exhibition and Conference ) pada tanggal 23 sampai dengan tanggal 25 September 2014, kami sudah mendapatkan informasi dari Partner kami di Malaysia. Dan karena terkait dengan pekerjaan serta opportunity yang akan kami dapat, maka kami merencanakan untuk hadir pada kegiatan ini, yang dilaksanakan di Kula Lumpur Convention Centre ( KLCC ) Malaysia.
Kami merencanakan untuk berangkat berdua dari Cabang Batam, dengan rencana awal adalah berangkat pada tanggal 22 September 2014 dan kembali ke Batam pada tanggal 25 September 2014, siang hari. Kami sudah booking hotel dan pesawat untuk keberangkatan, tetapi karena kepulangan tanggal 25/09/2014 adalah hari kamis, dan tidak ada schedule penerbangan dari Subang Jaya menuju Batam, maka pulangnya kami rencanakan untuk melalui perjalanan darat, dari Kuala Lumpur, menuju Johor Bahru (Terminal Larkin), lalu ke Stulang Laut dan naik ferry dari Stulang Laut ke Batam Centre.
Tanggal 22 September 2014, saya dengan sdr Ryan, berangkat melalui Batam, dengan menggunakan Firefly, menuju Subang Jaya - Kuala Lumpur, Pesawat berangkat pukul 11.00 WIB dan mendarat di Subang Jaya pada pukul 13.00. Dan kami langsung menuju Hotel di Jalan Ampang yang dekat dengan KLCC, yaitu Hotel Nomad Sucasa Suite Hotel. Hotel ini seperti Apartment, dimana setiap kamar lengkap dengan Kitchen Set, dll. Ini kali kami yang ke 2 menginap di hotel ini, setelah kegiatan OTC (Offshore Technologies Conference).
Tanggal 23 September 2014, setelah breakfast, kami menuju KLCC, dan melakukan registrasi manual setelah sebelumnya registrasi on-line. Ternyata event ini lebih kecil dari OTC. Dan (Seperti dugaan semula) ada beberapa Client di Batam yang membuka stand di kegiatan ini.
Setelah berkeliling dan mencari opportunity, kami bertemu dengan partner kami di Meeting Room. Dan setelah cukup lelah berkeliling, kami makan siang dengan Partner dan kembali ke Hotel. Sorenya kami jalan-jalan ke China Town.
Tanggal 24 September 2014, juga setelah breakfast, kami kembali menuju KLCC, saat akan menuju ruang Convention, kami bertemu dengan teman. Dan ada opportunity untuk pekerjaan inspection di daerah Johor Bahru, dan kami janji untuk men-follow up nya segera. Lalu kami diskusi kembali dengan partner kami dari Malaysia, lalu makan siang, kemudian diskusi kembali.
Saat saya check email, ternyata ada rencana Audit oleh Client pada tanggal 25/09/2014 pagi, dan rencana Audit ini sudah di re-schedule sebanyak 2X, sehingga saya tidak bisa menolaknya, karena ini memang opportunity yang sudah cukup lama kami tunggu. Dan atas bantuan dari Partner, saya merubah rencana kepulangan saya menjadi dinihari, dengan memakai pesawat Airasia dari KL (Bandara KLIA-2) menuju Singapore, lalu akan dillanjutkan dari Bandara Changi menuju Harbourfront dengan taksi dan akan naik ferry menuju Batam, agar saya bisa menghadiri Audit Client tersebut. Dan teman saya sdr Ryan, tetap sesuai rencana, akan menggunakan jalan darat via Johor Bahru.
Malamnya, agar saya tidak tertinggal pesawat di dinihari tanggal 25/09/2014, kami merencanakan untuk ke Genting Highland. Sayang sekali hujan deras mengguyur selama dalam perjalanan dari KL menuju GH. sehingga kami tidak dapat menikmati pemandangan alamnya. Setelah sampai, kami makan malam ditemani dinginnya malam yang mungkin berkisar pada 10 sampai 15 derajat celcius, sangat dingin, dan berkabut karena disertai dengan hujan.
Tanggal 25 September 2014, pukul 01.00 kami kembali ke Hotel, dan saya langsung packing untuk keberangkatan pada dinihari ini, agar tidak mengantuk, sambil begadang, saya langsung membuat Blog pribadi ini.......
Saya akan lanjutkan cerita ini setelah saya sampai di Batam dan setelah selesai Audit dari Client.......
Kamis, September 25, 2014
Sabtu, September 06, 2014
Selasa, Juni 24, 2014
RENUNGAN.... LELAH MELIHAT PER-POLITIK-AN DI INDONESIA
Dari hari ke hari, lelah mendengar, membaca, melihat dan orang-orang disekitar memperdebatkan Capres - Cawapres....... pilih sesuai hati nurani saudara-saudara ku. Jangan saling menghujat, gontok-gontokan, meledek serta merendahkan. berpolitiklah secara dewasa, berpolitiklah secara santun... kita sebangsa, setanah-air.... Hidup INDONESIA ku... Jayalah NEGERI ku....
Renungan.... Tidak bermaksud menyuruh memilih atau mengarahkan siapapun. Sekali lagi, ini hanya renungan, sekaligus introspeksi, betapa tidak dewasanya masyarakat kita.
"Calon Presiden Musuh Islam?"
**-**
“Cilaka, Kyai! Cilaka!” Aku baru saja tiba di Pondok Kyai Husain. Setelah mencium tangannya, aku tak bisa membendung rasa kesalku yang telah kutahan cukup lama. Kegelisahanku tiba-tiba membrudal di hadapan wajah teduh Kyai Husain yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesahku.
“Cilaka apanya, Nak?” Tanya Kyai Husain.
“Pilpres!” Aku tak punya jawaban lain yang lebih panjang lagi. Aku yakin Kyai Husain akan mengerti.
Kyai Husain terkekeh. “Ndak usah dipikir!” Katanya, “Nanti juga reda sendiri. Ndak usah dipikir!” Kyai Husain kemudian mulai melinting tembakaunya.
“Tapi ini sudah menyangkut keselamatan ummat, Kyai. Ini sudah genting! Jika calon yang didukung para pengusaha hitam dan musuh-musuh Islam yang menang, bisa habis ummat Islam di negeri ini. Negeri ini akan hancur dan mendapatkan azab dari Gusti Allah!”
Kyai Husain mengangguk-angguk. Wajahnya tampak prihatin. “Kamu sudah shalat?” Tanyanya.
Aku menggelengkan kepala.
“Ambillah air wudhu, lalu shalatlah terlebih dahulu. Waktu ashar hampir habis.” Kata Kyai Husain.
Pelan-pelan keresahanku ciut. Aku malu pada diriku sendiri. Betapa bebalnya imanku, aku berteriak-teriak mengkhawatirkan nasib ummat tetapi aku sendiri lupa menjalankan kewajibanku.
Aku pamit pada Kyai Husain untuk ke surau. Kyai Husain mengangguk-angguk perlahan. Beliau sedang asyik dengan tembakaunya.
Selang delapan atau sepuluh menit, aku sudah menghadapkan wajahku lagi pada Kyai Husain.
“Bagaimana shalatmu?” Tanya Kyai Husain tiba-tiba.
Aku terkejut ditanya demikian. Bagaimana shalatku?
“Eh, begitu, Kyai. Begitu saja. Alhamdulillah saya sudah shalat sekarang.” Aku menjawab pertanyaan itu dengan terbata-bata.
“Apa yang kaupikirkan dalam shalatmu?” Kyai Husain bertanya lagi.
Sebenarnya aku agak tersinggung ditanya-tanya begini. Apa urusan Kyai Husain tentang shalatku? Bukankah itu urusanku dengan Gusti Allah? Untuk apa Kyai Husain tanya-tanya segala? Tapi, karena aku sangat menghormati Kyai Husain, mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin mengakatan kepadanya bahwa aku tersinggung. Aku juga tak mungkin menjawab, Bukan urusan Anda, Kyai! Bisa-bisa nanti beliau yang tersinggung. Jika begitu, celakalah aku. Bisa kualat aku. Apalagi Kyai Husain inilah yang dulu mengajari aku shalat. Dari alif-ba-ta Al-Fatihah sampai rukuk-sujud gerakan shalat dia ajarkan kepadaku dengan penuh kesabaran.
“Eh… Anu, begini, Kyai… Soal shalat, biarlah itu menjadi komunikasi batin antara saya dan Gusti Allah.” Astagfirullah. Mengapa kata-kata itu juga yang keluar dari mulutku?
Kyai Husain terkekeh. Kemudian agak terbatuk. “Ya sudah… Soal agama, biarlah itu juga jadi urusan pribadi-pribadi dengan Tuhannya” Katanya, lalu beliau menghisap tembakaunya. “Tapi, dalam shalatmu, kamu mikirin copras-capres atau tidak?” Sambung Kyai Husan, kemudian tertawa lebar.
Aku jadi kikuk. Aku tersenyum-senyum malu.
“Iya, Kyai.” Aku memang tak khusuk dalam shalatku tadi. Kepalaku dipenuhi kekhawatiran-kekhawatiran dan semacam kebencian. Khawatir karena elektabilitas capres yang kubenci, yang begitu membahayakan bagi umat Islam, terus saja tinggi dan sulit tersaingi. Maunya apa sih ummat Islam Indonesia ini? Aku gelisah luar biasa dalam shalatku.
“Coba kamu ingat-ingat lagi,” kata Kyai Husain, “Capres mana yang paling membuatmu gelisah dalam shalat?”
“Jelas dia yang musuh ummat, Kyai! Jelas dia yang dikendalikan cukong-cukong asing! Jelas dia yang tidak pro kebijakan syariah! Jelas sekali dia yang diharamkan para ulama untuk dipilih!” Aku menjawab pertanyaan Kyai Husain dengan berapi-api.
Kyai Husain terkekeh. “Shalatmu begitu berat,” katanya.
Aku kebingungan.
“Shalatmu penuh beban,” lanjut Kyai Husain. “Aku tak pernah mengajarkan shalat yang penuh beban.”
“Tapi, Kyai…” Aku berusaha memotong Kyai Husan, “Mohon maaf. Ini memang masalah genting yang sedang kita hadapi sebagai bangsa. Pemilihan presiden tinggal 20 hari lagi, musuh-musuh Islam hampir saja menang!”
“Siapa yang kau sebut musuh-musuh Islam?”
“Capres boneka! Juga orang fasik di belakangnya!” Jawabku dengan penuh semangat.
“Bukankah dia juga seorang Muslim?” Tanya Kyai Husain.
“Saya meragukan keislamannya, Kyai! Itu pasti pencitraan! Keislaman palsu!”
“Ajari aku tentang keislaman yang asli, keislaman yang sejati?” Dengan tenang Kyai Husain mengajukan pertanyaan yang sama sekali tak kuduga. Beliau masih menghisap tembakaunya.
“Eh, Kyai. Mohon maaf, Kyai. Saya tidak dalam kapasitas untuk menjelaskan itu.” Tiba-tiba aku merasa malu pada diriku sendiri. Apa hakku memberi batas dan ukuran-ukuran bagi keislaman seseorang? Mengapa aku melabeli seseorang atau orang lain bahwa keislaman mereka palsu, pencitraan dan harus diragukan?
“Kalau begitu bagaimana dengan keislamanmu sendiri?” Tanya Kyai Husain.
Aku makin gelagapan. Bahkan shalat pun aku masih sering terlambat. Hingga hampir kehabisan waktu. Bahkan jika shalat pun aku masih memikirkan hal-ihwal ini-itu. Apa hakku mengatur-atur keisalaman orang lain? Bagaimana dengan keislamanku sendiri?
Aku tertunduk lesu. Tak bisa menjawab apa-apa dan tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menggelengkan kepala.
Kyai Husain terkekeh.
“Ummat Islam lebih besar dari sekadar pemilu-pemiluan,” jawab Kyai Husain, “Agama ini lebih besar dari sekadar capres-capresan!” Beliau tampak lebih serius.
Aku mulai memerhatikan perkataan Kyai Husain.
“Sebenarnya aku tak suka membicarakan ini. Islam dan apapun saja di dunia ini tidak level untuk dibanding-bandingkan. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi lagi darinya, itu sudah final. Kamu mau bawa-bawa Islam untuk urusan politik? Kamu tak lebih dari mereka yang memperjualbelikan agama untuk urusan dunia. Kamu mau membela ummat Islam? Tanyakan itu sekali lagi pada dirimu sendiri, bukankah kamu sebenarnya sedang melakukan segmentasi pemilih? Bukankah kamu ingin menggiring pemilih untuk melihat mana capres Islam dan bukan Islam agar mereka bisa dikategori-kategorikan, dikelompok-kelompokkan, agar syahwat kekuasaanmu dan sekelompok orang tertentu bisa tercapai? Kamu ini sedang membela Islam, atau siapa? Kamu ini sedang membela Gusti Allah atau membela orang-orang yang hanya mengaku-ngaku dekat dengan Gusti Allah?”
“Lalu soal mengharam-haramkan. Soal bahwa memilih capres tertentu diancam berdosa dan bahkan masuk neraka. Apa hakmu untuk mengatur-atur urusan yang bahkan Rasulullah Muhammad pun tak mungkin sanggup mencampuri urusan Gusti Allah itu? Apakah kamu sudah merasa lebih besar dari Rasulullah dan Gusti Allah? Kamu boleh senang atau tidak senang dengan capres terntentu atau siapapun saja, tetapi kemu tidak boleh senang melihat ummat Islam terpecah belah, dipecah-belah. Kamu boleh senang dengan politik dan segala tetek bengeknya, tetapi kamu tidak boleh senang melihat agamamu dijadikan alat untuk mendulang suara—kamu tidak boleh mengharam-haramkan sesuatu yang dengannya sebenarnya kamu sedang berusaha menghalal-halalkan syahwat dan nafsu politikmu semata!”
Aku hanya bisa menunduk. Kata-kata Kyai Husain benar-benar menampar hatiku.
“Tapi Kyai…” Aku berusaha memberi pembelaan, “Situasinya sekarang sudah hitam putih. Sudah jelas mana pembela Islam dan mana musuh Islam. Situasinya sudah genting!”
Kali ini Kyai Husain tampak marah. “Dengarkan aku!” Katanya, “Musuh Islam sejati adalah orang-orang munafik! Mereka yang dalam luka baru mengaku saudara! Mereka yang dalam situasi yang menguntungkan dirinya saja baru mengaku-aku dekat dengan agama ini. Mereka yang menjadikan agama ini hanya sebagai atribut belaka! Mereka yang menyebarkan kebencian dan merasa bahwa dirinya paling beriman.”
“Tapi… tapi…” Aku berusaha memotong Kyai Husain. Tapi beliau tampak benar-benar geram dengan situasi ini.
“Islam tak membutuhkan orang-orang yang menyebarkan kebencian sebagai jalan untuk meninggikannya. Gusti Allah tak perlu dibela. Jika kamu pikir besok Islam akan habis jika calon presiden yang kaubenci itu menang, kamu sudah benar-benar mengerdilkan dan meremehkan agama ini. Apakah jika dia menang lantas kamu otomatis pindah agama? Kecuali kualitas imanmu memang seperti kaus kaki yang kendur, kamu patut mengkhawatirkannya. Khawatirkanlah kualitas keimananmu sendiri!”
Aku mulai berpikir rupanya Kyai Husain memang punya pandangan politik yang berbeda denganku. Jangan-jangan beliau sudah bergabung dengan pendukung calon presiden boneka. Jangan-jangan beliau sudah sesat dan menjadi musuh Islam. Aku tak boleh menemuinya lagi. Ya, aku tak boleh menemuinya lagi. Haram hukumnya bagiku untuk menemuinya lagi.
“Sebentar lagi, kamu akan menuduhku kafir.” Tiba-tiba Kyai Husain seperti bisa membaca pikiranku. Lalu tertawa. “Tidak apa-apa jika kau berpikir begitu. Kelak di surgamu yang kamu bayang-bayangkan, mungkin kamu tidak akan menemukan orang-orang sepertiku. Surgamu mungkin akan dipenuhi oleh orang-orang yang suka menunjuk-nunjuk hidung orang lain sebagai sesat atau kafir atau musuh agama, sebab hanya diri mereka yang benar. Mungkin perlu juga kamu pikirkan apakah di antara orang-orang seperti ini terdapat kemungkinan untuk saling menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan juga? Sebab kebenaran hanya benar menurut dirimu sendiri, bukan? Di surga semacam itu, mungkin kamu akan hidup sendirian!”
Kyai Husain terkekeh.
Aku berada pada situasi yang benar-benar membingungkan Aku mulai ragu pada diriku sendiri. Apa yang dikatakan Kyai Husain benar-benar menampar hati dan kesadaranku.
“Maafkan saya, Kyai.” Tiba-tiba aku memohon maaf padanya. Akal sehat dan nuraniku memerintahkannya.
Kyai Husain hanya tertawa, sambil sesekali menghisap lintingan tembakaunya yang hampir habis. “Kau tak perlu meminta maaf padaku,” katanya, “Tapi kau harus mulai berpikir, bahwa calon presiden yang kamu bela atau calon presiden yang kamu benci tak akan menentukan apa-apa bagi kualitas keimanan dan ketakwaanmu sebagai individu. Itu urusan pribadimu sendiri dengan Gusti Allah.”
Aku mengangguk-angguk setuju.
“Perbaiki shalatmu,” kata Kyai Husain, “Perbaiki apa saja yang buruk pada dirimu. Lalu berbuat baiklah pada sesama. Jangan gadaikan agamamu hanya untuk sesuatu yang sementara seperti pesta demokrasi lima tahunan ini.”
“Tapi kita harus memilih, Kyai.”
Kyai Husain mengangguk. “Aku setuju. Pilihlah yang paling cocok menurut pertimbangan akal dan hati nuranimu.”
Aku mengangguk-angguk, “Terima kasih, Kyai.”
Magrib hampir tiba. Kyai Husain mangajakku ke surau untuk shalat magrib berjamaah. Aku menyetujui ajakannya. “Selesai shalat, orang-orang akan membicarakan hal yang sama,” Kyai Husain sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak apa-apa,” katanya, “Ini sedang masanya. Kelak kita akan kembali pada urusan masing-masing, pada problem hidup masing-masing, pada takdir dan nasib kita masing-masing, dan harus berjuang untuk menyelesaikannya sendiri-sendiri.”
Aku mengangguk. “Saya akan memilih calon presiden yang paling baik, yang bisa membantu rakyat untuk menyelesaikan problem-problem keseharian mereka, Kyai.”
“Nah, kali ini pertimbanganmu benar.” Kata Kyai Husain. “Alasan itu saja yang kau jadikan pertimbangan untuk menentukan pilihanmu, tak usah repot-repot bawa agama.”
Aku tersenyum. Ada semacam kelegaan dalam hatiku mendengar persetujuan Kyai Husain tentang pendapatku. Aku sengaja memelankan langkahku, ingin melihat Kyai Husain dari belakang. Aku memerhatikan langkah ritmisnya, rambut putihnya, sarung hijaunya, juga surban yang tak lepas dari kepalanya.
“Kyai…” Tiba-tiba aku ingin memanggilnya.
Kyai Husain menoleh.
“Siapa yang Kyai pilih?”
“Tak ada yang sempurna,” Jawabnya. “Seperti kita tahu, tak ada manusia yang sempurna. Bahkan Muhammad tak memiliki suara merdu seperti Daud, tak memiliki kemampuan fantastis seperti yang dimiliki Sulaiman, bahkan mungkin saja tak seberani Ibrahim atau setangguh Musa. Aku akan memilih calon presiden yang paling mengetahui bahwa dirinya tak sempurna dan dia yang paling bisa menghargai kemanusiaan sesama.”
Aku tak bisa menebak pilihan Kyai Husain.
“Siapa orangnya, Kyai?”
Kyai Husain hanya tersenyum, lalu terus berjalan menuju surau.
Usai shalat magrib, aku menyadari bahwa aku kembali tidak khusuk dalam shalatku. Sepanjang shalat, aku terus berpikir tentang pilihanku dan memerhatikan Kyai Husain yang menjadi imam. Ada bacaan shalat Kyai Husain yang menurutku keliru pelafalan dan tajwidnya.
Mungkin memang sulit mencari imam yang sempurna, pikirku. Tetapi dalam shalat berjamaah, semua orang diberi Allah derajat pahala berlipat ganda. Aku mulai sadar, kebaikan yang paripurna tak bisa dicapai sendirian.
Aku terus memerhatikan Kyai Husain yang kali ini tampak sedang berdzikir. Kepalanya mengangguk-angguk ritmis. Aku belum tahu jawaban Kyai Husain tentang calon presiden pilihannya... Tapi aku mulai ragu pada pilihanku sendiri.
----
Melbourne, 21 Juni 2014
*Penulis: Fahd Pahdepie atau dikenal juga dengan nama pena Fahd Djibran adalah mahasiswa Postgraduate di School of Politics and International Relations, Monash University, Australia. Saat ini tinggal di Melbourne.
Renungan.... Tidak bermaksud menyuruh memilih atau mengarahkan siapapun. Sekali lagi, ini hanya renungan, sekaligus introspeksi, betapa tidak dewasanya masyarakat kita.
"Calon Presiden Musuh Islam?"
**-**
“Cilaka, Kyai! Cilaka!” Aku baru saja tiba di Pondok Kyai Husain. Setelah mencium tangannya, aku tak bisa membendung rasa kesalku yang telah kutahan cukup lama. Kegelisahanku tiba-tiba membrudal di hadapan wajah teduh Kyai Husain yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesahku.
“Cilaka apanya, Nak?” Tanya Kyai Husain.
“Pilpres!” Aku tak punya jawaban lain yang lebih panjang lagi. Aku yakin Kyai Husain akan mengerti.
Kyai Husain terkekeh. “Ndak usah dipikir!” Katanya, “Nanti juga reda sendiri. Ndak usah dipikir!” Kyai Husain kemudian mulai melinting tembakaunya.
“Tapi ini sudah menyangkut keselamatan ummat, Kyai. Ini sudah genting! Jika calon yang didukung para pengusaha hitam dan musuh-musuh Islam yang menang, bisa habis ummat Islam di negeri ini. Negeri ini akan hancur dan mendapatkan azab dari Gusti Allah!”
Kyai Husain mengangguk-angguk. Wajahnya tampak prihatin. “Kamu sudah shalat?” Tanyanya.
Aku menggelengkan kepala.
“Ambillah air wudhu, lalu shalatlah terlebih dahulu. Waktu ashar hampir habis.” Kata Kyai Husain.
Pelan-pelan keresahanku ciut. Aku malu pada diriku sendiri. Betapa bebalnya imanku, aku berteriak-teriak mengkhawatirkan nasib ummat tetapi aku sendiri lupa menjalankan kewajibanku.
Aku pamit pada Kyai Husain untuk ke surau. Kyai Husain mengangguk-angguk perlahan. Beliau sedang asyik dengan tembakaunya.
Selang delapan atau sepuluh menit, aku sudah menghadapkan wajahku lagi pada Kyai Husain.
“Bagaimana shalatmu?” Tanya Kyai Husain tiba-tiba.
Aku terkejut ditanya demikian. Bagaimana shalatku?
“Eh, begitu, Kyai. Begitu saja. Alhamdulillah saya sudah shalat sekarang.” Aku menjawab pertanyaan itu dengan terbata-bata.
“Apa yang kaupikirkan dalam shalatmu?” Kyai Husain bertanya lagi.
Sebenarnya aku agak tersinggung ditanya-tanya begini. Apa urusan Kyai Husain tentang shalatku? Bukankah itu urusanku dengan Gusti Allah? Untuk apa Kyai Husain tanya-tanya segala? Tapi, karena aku sangat menghormati Kyai Husain, mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin mengakatan kepadanya bahwa aku tersinggung. Aku juga tak mungkin menjawab, Bukan urusan Anda, Kyai! Bisa-bisa nanti beliau yang tersinggung. Jika begitu, celakalah aku. Bisa kualat aku. Apalagi Kyai Husain inilah yang dulu mengajari aku shalat. Dari alif-ba-ta Al-Fatihah sampai rukuk-sujud gerakan shalat dia ajarkan kepadaku dengan penuh kesabaran.
“Eh… Anu, begini, Kyai… Soal shalat, biarlah itu menjadi komunikasi batin antara saya dan Gusti Allah.” Astagfirullah. Mengapa kata-kata itu juga yang keluar dari mulutku?
Kyai Husain terkekeh. Kemudian agak terbatuk. “Ya sudah… Soal agama, biarlah itu juga jadi urusan pribadi-pribadi dengan Tuhannya” Katanya, lalu beliau menghisap tembakaunya. “Tapi, dalam shalatmu, kamu mikirin copras-capres atau tidak?” Sambung Kyai Husan, kemudian tertawa lebar.
Aku jadi kikuk. Aku tersenyum-senyum malu.
“Iya, Kyai.” Aku memang tak khusuk dalam shalatku tadi. Kepalaku dipenuhi kekhawatiran-kekhawatiran dan semacam kebencian. Khawatir karena elektabilitas capres yang kubenci, yang begitu membahayakan bagi umat Islam, terus saja tinggi dan sulit tersaingi. Maunya apa sih ummat Islam Indonesia ini? Aku gelisah luar biasa dalam shalatku.
“Coba kamu ingat-ingat lagi,” kata Kyai Husain, “Capres mana yang paling membuatmu gelisah dalam shalat?”
“Jelas dia yang musuh ummat, Kyai! Jelas dia yang dikendalikan cukong-cukong asing! Jelas dia yang tidak pro kebijakan syariah! Jelas sekali dia yang diharamkan para ulama untuk dipilih!” Aku menjawab pertanyaan Kyai Husain dengan berapi-api.
Kyai Husain terkekeh. “Shalatmu begitu berat,” katanya.
Aku kebingungan.
“Shalatmu penuh beban,” lanjut Kyai Husain. “Aku tak pernah mengajarkan shalat yang penuh beban.”
“Tapi, Kyai…” Aku berusaha memotong Kyai Husan, “Mohon maaf. Ini memang masalah genting yang sedang kita hadapi sebagai bangsa. Pemilihan presiden tinggal 20 hari lagi, musuh-musuh Islam hampir saja menang!”
“Siapa yang kau sebut musuh-musuh Islam?”
“Capres boneka! Juga orang fasik di belakangnya!” Jawabku dengan penuh semangat.
“Bukankah dia juga seorang Muslim?” Tanya Kyai Husain.
“Saya meragukan keislamannya, Kyai! Itu pasti pencitraan! Keislaman palsu!”
“Ajari aku tentang keislaman yang asli, keislaman yang sejati?” Dengan tenang Kyai Husain mengajukan pertanyaan yang sama sekali tak kuduga. Beliau masih menghisap tembakaunya.
“Eh, Kyai. Mohon maaf, Kyai. Saya tidak dalam kapasitas untuk menjelaskan itu.” Tiba-tiba aku merasa malu pada diriku sendiri. Apa hakku memberi batas dan ukuran-ukuran bagi keislaman seseorang? Mengapa aku melabeli seseorang atau orang lain bahwa keislaman mereka palsu, pencitraan dan harus diragukan?
“Kalau begitu bagaimana dengan keislamanmu sendiri?” Tanya Kyai Husain.
Aku makin gelagapan. Bahkan shalat pun aku masih sering terlambat. Hingga hampir kehabisan waktu. Bahkan jika shalat pun aku masih memikirkan hal-ihwal ini-itu. Apa hakku mengatur-atur keisalaman orang lain? Bagaimana dengan keislamanku sendiri?
Aku tertunduk lesu. Tak bisa menjawab apa-apa dan tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menggelengkan kepala.
Kyai Husain terkekeh.
“Ummat Islam lebih besar dari sekadar pemilu-pemiluan,” jawab Kyai Husain, “Agama ini lebih besar dari sekadar capres-capresan!” Beliau tampak lebih serius.
Aku mulai memerhatikan perkataan Kyai Husain.
“Sebenarnya aku tak suka membicarakan ini. Islam dan apapun saja di dunia ini tidak level untuk dibanding-bandingkan. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi lagi darinya, itu sudah final. Kamu mau bawa-bawa Islam untuk urusan politik? Kamu tak lebih dari mereka yang memperjualbelikan agama untuk urusan dunia. Kamu mau membela ummat Islam? Tanyakan itu sekali lagi pada dirimu sendiri, bukankah kamu sebenarnya sedang melakukan segmentasi pemilih? Bukankah kamu ingin menggiring pemilih untuk melihat mana capres Islam dan bukan Islam agar mereka bisa dikategori-kategorikan, dikelompok-kelompokkan, agar syahwat kekuasaanmu dan sekelompok orang tertentu bisa tercapai? Kamu ini sedang membela Islam, atau siapa? Kamu ini sedang membela Gusti Allah atau membela orang-orang yang hanya mengaku-ngaku dekat dengan Gusti Allah?”
“Lalu soal mengharam-haramkan. Soal bahwa memilih capres tertentu diancam berdosa dan bahkan masuk neraka. Apa hakmu untuk mengatur-atur urusan yang bahkan Rasulullah Muhammad pun tak mungkin sanggup mencampuri urusan Gusti Allah itu? Apakah kamu sudah merasa lebih besar dari Rasulullah dan Gusti Allah? Kamu boleh senang atau tidak senang dengan capres terntentu atau siapapun saja, tetapi kemu tidak boleh senang melihat ummat Islam terpecah belah, dipecah-belah. Kamu boleh senang dengan politik dan segala tetek bengeknya, tetapi kamu tidak boleh senang melihat agamamu dijadikan alat untuk mendulang suara—kamu tidak boleh mengharam-haramkan sesuatu yang dengannya sebenarnya kamu sedang berusaha menghalal-halalkan syahwat dan nafsu politikmu semata!”
Aku hanya bisa menunduk. Kata-kata Kyai Husain benar-benar menampar hatiku.
“Tapi Kyai…” Aku berusaha memberi pembelaan, “Situasinya sekarang sudah hitam putih. Sudah jelas mana pembela Islam dan mana musuh Islam. Situasinya sudah genting!”
Kali ini Kyai Husain tampak marah. “Dengarkan aku!” Katanya, “Musuh Islam sejati adalah orang-orang munafik! Mereka yang dalam luka baru mengaku saudara! Mereka yang dalam situasi yang menguntungkan dirinya saja baru mengaku-aku dekat dengan agama ini. Mereka yang menjadikan agama ini hanya sebagai atribut belaka! Mereka yang menyebarkan kebencian dan merasa bahwa dirinya paling beriman.”
“Tapi… tapi…” Aku berusaha memotong Kyai Husain. Tapi beliau tampak benar-benar geram dengan situasi ini.
“Islam tak membutuhkan orang-orang yang menyebarkan kebencian sebagai jalan untuk meninggikannya. Gusti Allah tak perlu dibela. Jika kamu pikir besok Islam akan habis jika calon presiden yang kaubenci itu menang, kamu sudah benar-benar mengerdilkan dan meremehkan agama ini. Apakah jika dia menang lantas kamu otomatis pindah agama? Kecuali kualitas imanmu memang seperti kaus kaki yang kendur, kamu patut mengkhawatirkannya. Khawatirkanlah kualitas keimananmu sendiri!”
Aku mulai berpikir rupanya Kyai Husain memang punya pandangan politik yang berbeda denganku. Jangan-jangan beliau sudah bergabung dengan pendukung calon presiden boneka. Jangan-jangan beliau sudah sesat dan menjadi musuh Islam. Aku tak boleh menemuinya lagi. Ya, aku tak boleh menemuinya lagi. Haram hukumnya bagiku untuk menemuinya lagi.
“Sebentar lagi, kamu akan menuduhku kafir.” Tiba-tiba Kyai Husain seperti bisa membaca pikiranku. Lalu tertawa. “Tidak apa-apa jika kau berpikir begitu. Kelak di surgamu yang kamu bayang-bayangkan, mungkin kamu tidak akan menemukan orang-orang sepertiku. Surgamu mungkin akan dipenuhi oleh orang-orang yang suka menunjuk-nunjuk hidung orang lain sebagai sesat atau kafir atau musuh agama, sebab hanya diri mereka yang benar. Mungkin perlu juga kamu pikirkan apakah di antara orang-orang seperti ini terdapat kemungkinan untuk saling menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan juga? Sebab kebenaran hanya benar menurut dirimu sendiri, bukan? Di surga semacam itu, mungkin kamu akan hidup sendirian!”
Kyai Husain terkekeh.
Aku berada pada situasi yang benar-benar membingungkan Aku mulai ragu pada diriku sendiri. Apa yang dikatakan Kyai Husain benar-benar menampar hati dan kesadaranku.
“Maafkan saya, Kyai.” Tiba-tiba aku memohon maaf padanya. Akal sehat dan nuraniku memerintahkannya.
Kyai Husain hanya tertawa, sambil sesekali menghisap lintingan tembakaunya yang hampir habis. “Kau tak perlu meminta maaf padaku,” katanya, “Tapi kau harus mulai berpikir, bahwa calon presiden yang kamu bela atau calon presiden yang kamu benci tak akan menentukan apa-apa bagi kualitas keimanan dan ketakwaanmu sebagai individu. Itu urusan pribadimu sendiri dengan Gusti Allah.”
Aku mengangguk-angguk setuju.
“Perbaiki shalatmu,” kata Kyai Husain, “Perbaiki apa saja yang buruk pada dirimu. Lalu berbuat baiklah pada sesama. Jangan gadaikan agamamu hanya untuk sesuatu yang sementara seperti pesta demokrasi lima tahunan ini.”
“Tapi kita harus memilih, Kyai.”
Kyai Husain mengangguk. “Aku setuju. Pilihlah yang paling cocok menurut pertimbangan akal dan hati nuranimu.”
Aku mengangguk-angguk, “Terima kasih, Kyai.”
Magrib hampir tiba. Kyai Husain mangajakku ke surau untuk shalat magrib berjamaah. Aku menyetujui ajakannya. “Selesai shalat, orang-orang akan membicarakan hal yang sama,” Kyai Husain sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak apa-apa,” katanya, “Ini sedang masanya. Kelak kita akan kembali pada urusan masing-masing, pada problem hidup masing-masing, pada takdir dan nasib kita masing-masing, dan harus berjuang untuk menyelesaikannya sendiri-sendiri.”
Aku mengangguk. “Saya akan memilih calon presiden yang paling baik, yang bisa membantu rakyat untuk menyelesaikan problem-problem keseharian mereka, Kyai.”
“Nah, kali ini pertimbanganmu benar.” Kata Kyai Husain. “Alasan itu saja yang kau jadikan pertimbangan untuk menentukan pilihanmu, tak usah repot-repot bawa agama.”
Aku tersenyum. Ada semacam kelegaan dalam hatiku mendengar persetujuan Kyai Husain tentang pendapatku. Aku sengaja memelankan langkahku, ingin melihat Kyai Husain dari belakang. Aku memerhatikan langkah ritmisnya, rambut putihnya, sarung hijaunya, juga surban yang tak lepas dari kepalanya.
“Kyai…” Tiba-tiba aku ingin memanggilnya.
Kyai Husain menoleh.
“Siapa yang Kyai pilih?”
“Tak ada yang sempurna,” Jawabnya. “Seperti kita tahu, tak ada manusia yang sempurna. Bahkan Muhammad tak memiliki suara merdu seperti Daud, tak memiliki kemampuan fantastis seperti yang dimiliki Sulaiman, bahkan mungkin saja tak seberani Ibrahim atau setangguh Musa. Aku akan memilih calon presiden yang paling mengetahui bahwa dirinya tak sempurna dan dia yang paling bisa menghargai kemanusiaan sesama.”
Aku tak bisa menebak pilihan Kyai Husain.
“Siapa orangnya, Kyai?”
Kyai Husain hanya tersenyum, lalu terus berjalan menuju surau.
Usai shalat magrib, aku menyadari bahwa aku kembali tidak khusuk dalam shalatku. Sepanjang shalat, aku terus berpikir tentang pilihanku dan memerhatikan Kyai Husain yang menjadi imam. Ada bacaan shalat Kyai Husain yang menurutku keliru pelafalan dan tajwidnya.
Mungkin memang sulit mencari imam yang sempurna, pikirku. Tetapi dalam shalat berjamaah, semua orang diberi Allah derajat pahala berlipat ganda. Aku mulai sadar, kebaikan yang paripurna tak bisa dicapai sendirian.
Aku terus memerhatikan Kyai Husain yang kali ini tampak sedang berdzikir. Kepalanya mengangguk-angguk ritmis. Aku belum tahu jawaban Kyai Husain tentang calon presiden pilihannya... Tapi aku mulai ragu pada pilihanku sendiri.
----
Melbourne, 21 Juni 2014
*Penulis: Fahd Pahdepie atau dikenal juga dengan nama pena Fahd Djibran adalah mahasiswa Postgraduate di School of Politics and International Relations, Monash University, Australia. Saat ini tinggal di Melbourne.
Senin, Mei 05, 2014
KOTA DURI - MASIH SEPERTI YANG DULU - TIDAK BANYAK YANG BERUBAH
Duri, adalah Ibukota Kecamatan Mandau. Tahun 2010 sampai tahun 2011, saya ditugaskan di kota ini. Dan kemarin tanggal 02/05/2014, saya berkesempatan untuk kembali ke kota ini, untuk menghadiri Undangan Pernikahan salah seorang karyawan Chevron.
Karena saya sedang bertugas di Batam, dan tanggal 01/05/2014 adalah hari libur (hari Buruh), maka dari Batam tanggal 30/04/2014 saya berangkat ke Jakarta untuk meeting di Jakarta sekaligus kumpul bersama keluarga.
Tanggal 02/05/2014, saya menuju ke Pekanbaru dengan memakai pesawat Garuda, mendarat di Pekanbaru. Dan saya dijemput oleh salah seorang teman saya yang berdomisili di Kota Duri. Banyak informasi yang diceritakan oleh teman saya terkait dengan kemajuan dan perkembangan kota Duri. "Tidak banyak perubahan yang terjadi" katanya. Padahal, Duri adalah salah satu kota terkaya di Dunia, dengan penghasilan Minyak nya yang berlimpah yang dikelola oleh salah satu Perusahaan Minyak Dunia. Menurut wikipedia, Kabupaten Bengkalis (yang didalam nya ada Duri), adalah Kabupaten terkaya nomor 2 setelah Kutai Kartanegara (kalimantan Timur). Sempat ada wacana Kota Duri untuk menjadi Kabupaten, tetapi teman saya belum tahu perkembangan nya.
Satu hal yang cukup membuat saya aneh, perjalanan dari Pekanbaru ke Duri, yang biasanya bisa ditempuh 2 atau 3 Jam, sekarang membutuhkan waktu yang sangat lama, bisa sampai 5 atau 6 Jam perjalanan. Bahkan kadang lebih.......
Penyebabnya adalah proses pelapisan jalan, baik dengan di Aspal maupun melalui Pengecoran, yang proses pengerjaan sangat lambat. September tahun lampau (2013) saya ke kota Duri, saat itu sedang dilakukan pelapisan jalan, baik dengan di Aspal maupun melalui Pengecoran. Ternyata, sampai saat ini, masih juga belum selesai, entah sampai kapan......
Proses pengerjaan pelapisan dan pengecoran yang lambat, ditambah dengan tidak disiplin nya pengguna jalan, baik mobil pribadi, angkutan umum, truk Balak, truk CPO dan lain-lain, semakin menambah semrawut nya perjalanan saya ke Kota Duri. Kami sempat ber-istirahat di daerah Kandis untuk makan, pilihan kami setiap ke Duri adalah rumah makan "Pondok Bamboe". Dan alhasil perjalanan sampai di Kota Duri ditempuh dengan 6 Jam......
Seperti yang disampaikan sebelumnya, Kota Duri yang tidak banyak perubahan, ternyata benar. Salah satu kota terkaya di Indonesia, tidak nampak kekayaannya dalam kehidupan sehari-hari Masyarakatnya.
Saya menginap di Hotel Grand Zuri, salah satu hotel dari sedikit hotel di kota Duri, yang termasuk kategori baik. Dan saya selalu menginap di Hotel ini, setiap kali ke kota ini.
Baru sampai, sudah terbayang sengsaranya akan perjalanan pulang kembali ke Pekanbaru dari Duri, untuk kembali ke Batam.......
Duri, adalah cerminan dari kota-kota kecamatan di Indonesia, yang tidak nampak kelebihan nya sama sekali sebagai salah satu kota kecamatan terkaya di Indonesia. Wahaca sekitar 5 tahun yang lalu, untuk membuat jalan tol dari Pekanbaru ke Dumai, yang melalui kota Duri, masih terus bergulir sebagai wacana.......
Konon katanya beberapa saat yang lalu, sempat ada wacana untuk membuat Bandara di wilayah Kabupaten Bengkalis, tetapi tidak jadi, entah mengapa. Mungkin Ibukota Propinsi Riau khawatir, jika pembuatan Bandara jadi, maka dipastikan Pekanbaru akan sepi. Sama seperti Kalimantan Timur, yang ber-Ibukota Samarinda, tetapi jauh lebih ramai Kota Balikpapan. Atau Kepulauan Riau, yang ber-Ibukota Tanjung Pinang, tetapi jauh lebih ramai di Pulau / Kota Batam....
Duri oh Duri nasibmu..... Crude Oil sebagai sumber utama kekayaan Kota Duri, semakin hari semakin berkurang cadangan minyak bumi nya, karena ini adalah Sumber Daya Alam yang tidak tergantikan.
Karena saya sedang bertugas di Batam, dan tanggal 01/05/2014 adalah hari libur (hari Buruh), maka dari Batam tanggal 30/04/2014 saya berangkat ke Jakarta untuk meeting di Jakarta sekaligus kumpul bersama keluarga.
Tanggal 02/05/2014, saya menuju ke Pekanbaru dengan memakai pesawat Garuda, mendarat di Pekanbaru. Dan saya dijemput oleh salah seorang teman saya yang berdomisili di Kota Duri. Banyak informasi yang diceritakan oleh teman saya terkait dengan kemajuan dan perkembangan kota Duri. "Tidak banyak perubahan yang terjadi" katanya. Padahal, Duri adalah salah satu kota terkaya di Dunia, dengan penghasilan Minyak nya yang berlimpah yang dikelola oleh salah satu Perusahaan Minyak Dunia. Menurut wikipedia, Kabupaten Bengkalis (yang didalam nya ada Duri), adalah Kabupaten terkaya nomor 2 setelah Kutai Kartanegara (kalimantan Timur). Sempat ada wacana Kota Duri untuk menjadi Kabupaten, tetapi teman saya belum tahu perkembangan nya.
Satu hal yang cukup membuat saya aneh, perjalanan dari Pekanbaru ke Duri, yang biasanya bisa ditempuh 2 atau 3 Jam, sekarang membutuhkan waktu yang sangat lama, bisa sampai 5 atau 6 Jam perjalanan. Bahkan kadang lebih.......
Penyebabnya adalah proses pelapisan jalan, baik dengan di Aspal maupun melalui Pengecoran, yang proses pengerjaan sangat lambat. September tahun lampau (2013) saya ke kota Duri, saat itu sedang dilakukan pelapisan jalan, baik dengan di Aspal maupun melalui Pengecoran. Ternyata, sampai saat ini, masih juga belum selesai, entah sampai kapan......
Proses pengerjaan pelapisan dan pengecoran yang lambat, ditambah dengan tidak disiplin nya pengguna jalan, baik mobil pribadi, angkutan umum, truk Balak, truk CPO dan lain-lain, semakin menambah semrawut nya perjalanan saya ke Kota Duri. Kami sempat ber-istirahat di daerah Kandis untuk makan, pilihan kami setiap ke Duri adalah rumah makan "Pondok Bamboe". Dan alhasil perjalanan sampai di Kota Duri ditempuh dengan 6 Jam......
Seperti yang disampaikan sebelumnya, Kota Duri yang tidak banyak perubahan, ternyata benar. Salah satu kota terkaya di Indonesia, tidak nampak kekayaannya dalam kehidupan sehari-hari Masyarakatnya.
Saya menginap di Hotel Grand Zuri, salah satu hotel dari sedikit hotel di kota Duri, yang termasuk kategori baik. Dan saya selalu menginap di Hotel ini, setiap kali ke kota ini.
Baru sampai, sudah terbayang sengsaranya akan perjalanan pulang kembali ke Pekanbaru dari Duri, untuk kembali ke Batam.......
Duri, adalah cerminan dari kota-kota kecamatan di Indonesia, yang tidak nampak kelebihan nya sama sekali sebagai salah satu kota kecamatan terkaya di Indonesia. Wahaca sekitar 5 tahun yang lalu, untuk membuat jalan tol dari Pekanbaru ke Dumai, yang melalui kota Duri, masih terus bergulir sebagai wacana.......
Konon katanya beberapa saat yang lalu, sempat ada wacana untuk membuat Bandara di wilayah Kabupaten Bengkalis, tetapi tidak jadi, entah mengapa. Mungkin Ibukota Propinsi Riau khawatir, jika pembuatan Bandara jadi, maka dipastikan Pekanbaru akan sepi. Sama seperti Kalimantan Timur, yang ber-Ibukota Samarinda, tetapi jauh lebih ramai Kota Balikpapan. Atau Kepulauan Riau, yang ber-Ibukota Tanjung Pinang, tetapi jauh lebih ramai di Pulau / Kota Batam....
Duri oh Duri nasibmu..... Crude Oil sebagai sumber utama kekayaan Kota Duri, semakin hari semakin berkurang cadangan minyak bumi nya, karena ini adalah Sumber Daya Alam yang tidak tergantikan.
Senin, April 28, 2014
NONTON MOTOGP SEPANG 2013. APA KABAR SIRKUIT SENTUL ??
Client kami dari Negeri Jiran Malaysia, atau lebih tepatnya disebut sebagai
Partner, menawarkan tiket untuk menonton MotoGP 2013 tanggal 11-14 Oktober 2013
di Sepang, Selangor, Malaysia. Siapa takut ???. Karena disaat yang bersamaan,
saya juga penggila MotoGP, khususnya Valentino Rossi. Dan disaat yang
bersamaan, kami juga harus prepare untuk Signing Contract yang akan berakhir pada bulan Desember 2013.
Akhirnya kami setting meeting di Malaysia, tepatnya di Shah Alam, kantor
dimana Client / Partner tersebut berada. Dua hari sebelum race day MotoGP, saya segera booking tiket pesawat Firefly pada hari Jum’at. Schedule
penerbangan pesawat ini dari Batam menuju Subang Jaya hanya 4X dalam seminggu,
yaitu pada hari Senin, Rabu, Jum’at dan Minggu. Saya berangkat hari Jum’at. Dan
sesampai di Subang Jaya, kami dijemput oleh Client untuk meeting. Selesai
meeting, kami Check-in di Hotel Grand Summit Jaya, yang juga di siapkan oleh
Client. Duuuhhh… enaknya. Hotel ini juga connecting dengan Mall Summit Jaya,
dan Hotel ini bintang 4.
Selama dua hari kami menonton di Sirkuit Sepang yang dibangun tahun 1999
( Jauh setelah Sirkuit Sentul dibangun, yaitu tahun 1994), dengan panjang
lintasan 5,543 Km (3,44 Mil). Kami menonton mulai dari free practice sampai
racing. Sungguh iri melihat pengelolaan dan management di sirkuit Sepang yang sangat professional,
dengan mengambil lokasi ditengah ladang kebun sawit. Malaysia membangun sirkuit
yang bagus untuk MotoGP dan Formula-1 setiap tahun nya.
Lalu, apa kabar Sirkuit Sentul ??? Bahkan dari informasi yang saya baca dari
media, Thailand di tahun 2015 sudah siap mengadakan MotoGP & Formula-1 di “Buriram
International Circuit”. Bagaimana dengan sirkuit kita ??. Sirkuit Sentul akan
semakin tertinggal dalam perlombaan untuk bisa menyelenggarakan MotoGP dan F-1, jika tidak berbenah secara profesional.
Sirkuit International Sentul, menurut Wikipedia, adalah sebuah sirkuit balap yang terletak di desa Sentul,
kecamatan Babakan Madang, Kabupaten
Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Sirkuit ini sering digunakan untuk
menyelenggarakan balap motor serta ajang Asian F-3 dan tercatat pernah menjadi
penyelenggara MotoGP dari tahun 1996 hingga akhir tahun 1997. Entah kenapa
sekarang dihapus.
Usaha dalam
membangun sirkuit Formula Satu yang kedua di Asia setelah Jepang adalah di
Indonesia, pada tahun 1994. Dengan panjang 4,12 kilometer, Sirkuit
International Sentul diharapkan dapat menjadikan Indonesia sebagai salah satu
negara penyelenggara Formula Satu, hingga akhirnya pada tahun 1997, krisis
moneter di Asia menyebabkan hal tersebut menjadi tidak mungkin dilaksanakan.
Rampung pada tahun 1994, fasilitas yang ada kini telah sedikit tertinggal oleh
perkembangan zaman, hingga menyebabkan ia tidak cocok untuk menyelenggarakan
ajang yang super cepat sekelas F-1.
Namun, di sirkuit ini tetap cocok bagi pembalap untuk berkompetisi di ajang Asian Formula 3 Super Series. Setelah diadakan beberapa perbaikan di beberapa bagian sirkuit untuk mencapai standar yang ditetapkan oleh FIA untuk menyelenggarakan balapan seperti A-1 Grand Prix, yaitu tingkat 2 (tingkat 1 adalah standar untuk menyelenggarakan balapan sekelas Formula-1) maka sirkuit sentul akhirnya dapat menyelenggarakan A1 Grand Prix selama dua musim (2005-06 dan 2006-07).
Namun, di sirkuit ini tetap cocok bagi pembalap untuk berkompetisi di ajang Asian Formula 3 Super Series. Setelah diadakan beberapa perbaikan di beberapa bagian sirkuit untuk mencapai standar yang ditetapkan oleh FIA untuk menyelenggarakan balapan seperti A-1 Grand Prix, yaitu tingkat 2 (tingkat 1 adalah standar untuk menyelenggarakan balapan sekelas Formula-1) maka sirkuit sentul akhirnya dapat menyelenggarakan A1 Grand Prix selama dua musim (2005-06 dan 2006-07).
Data Sirkuit Sentul 1994, Panjang
lintasan: 4,12 km (2,56 mil), Lebar lintasan: 15 mtr, Lintasan lurus
terpanjang: 900 mtr, Lisensi sirkuit FIA tingkat 2, 50 garasi pit, 2 tribun
duduk tertutup.
Fasilitas Sirkuit Sentul, Lintasan Grand Prix, Motocross, Autocross dan sirkuit Go-kart, Hotel
internasional bintang tiga, Bungalow, Lapangan golf internasional, Restoran, Pusat
rekreasi. Sayang pengelolaan nya mungkin kurang didukung oleh Pemerintah,
sehingga tidak bisa maksimal…
MotoGP Sepang 2014, saya pasti akan menonton kembali…. Tapi tetap sambil berharap, suatu saat kelak, saya akan menonton MotoGP di Sentul, di Sirkuit milik Bangsa Indonesia. Semoga....
Kamis, April 24, 2014
SENGGIGI - GILI TRAWANGAN - GILI MENO DAN GILI AIR - LOMBOK
Bulan April 2014 ini, saya sengaja mengambil cuti di tanggal yang terjepit (Harpitnas) yaitu pada 14 sampai 20 April 2014. Yang juga berbarengan UN SMA, sehingga anak saya yang SMA libur dan pada saat yang sama, anak saya yang besar juga libur kuliah. Jadi saya putuskan untuk berlibur dengan keluarga.
Tujuan yang sudah kami sepakati adalah Pulau Bali, kami sudah mencoba booking hotel di Kuta - Bali pada tanggal 17 sampai 20/04/2014. Dan hotel kami sudah mendapatkan konfirmasi ketersediaan kamarnya. Tetapi sayang, pada tanggal tersebut, seluruh penerbangan, baik Garuda, CitiLink, Lion Air, AirAsia dan Sriwijaya semua fully booked..... Luar biasa masyarakat Indonesia, jika menjelang liburan.... Padahal frekwensi penerbangan ke Denpasar - Bali sangat banyak.
Akhirnya, liburan kami alihkan ke Lombok. Dengan tujuan ke Senggigi, Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Hotel sudah kami booking via internet di "Senggigi Beach Hotel". Tetapi pesawat juga fully booked. Alhamdulillah kami mendapatkan 4 seat di Lion Air, kalau rejeki pasti tidak kemana..... Kami putuskan, keberangkatan tetap pada tanggal 17/04/2014 pagi. Tetapi kepulangannya kami rubah menjadi tanggal 19/04/2014 sore, mengingat padatnya penumpang.
Tanggal 17/04/2014 pagi pukul 05.00 WIB, kami sudah berangkat menuju Bandara Soetta untuk mengejar pesawat pukul 09.05 WIB. Seperti biasa, pesawat delay, dan kami mendarat di Bandara Praya - Mataram pada pukul 13.00 Wita. Oh iya, sebelum ke Lombok, saya sudah searching dan mencari tahu tentang biaya untuk penjemputan Bandara Praya ke Hotel di Senggigi, mengingat jarak nya yang cukup jauh. Karena fihak hotel tidak menyediakan Shuttle kendaraan untuk penjemputan. Serta mencari tahu biaya sewa perahu menuju pulan Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.
Melalui website, kami mempunyai pembanding biaya, akhirnya saya putuskan untuk minta dijemput oleh fihak hotel dengan mobil Avanza, dengan biaya jauh lebih mudah di banding yang lain. Dalam perjalanan, kami sempatkan mampir untuk makan siang di restoran Ayam Taliwang yang terkenal di Mataram.
Hotel & Resort di Senggigi Beach Hotel, adalah hotel pertama yang dibangun di pantai Senggigi (dibangun tahun 1987). Desain dan interior nya cukup bagus. setelah kami check-in, kami menuju ke ruangan / kamar yang kami booking, dengan pelayanan yang sangat ramah dan baik, kami juga mendapat kamar yang cukup baik & bersih.
Sesuai dengan itinerary / rencana perjalanan yang sudah kami buat dengan keluarga, setelah istirahat sejenak, kami jalan-jalan di sekitar hotel dan resort tersebut yang cukup luas. Dan kami bersenda gurau di Pantai Senggigi. Lalu kami coba tanya-tanya untuk sewa perahu ke Pulau Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air untuk esok hari. Kami rencana kan berangkat pagi dan kembali sore hari. Dan sekali lagi, kami mendapatkan sewa perahu yang jauh lebih murah, dibanding yang ada di website untuk perjalanan di Lombok. Kami tawar dan kami sepakat pada angka tertentu. Lalu kami habiskan waktu sore itu di pantai.
Malam hari, kami jalan-jalan di daerah Senggigi dengan menyewa andong. Sepanjang perjalanan, dipenuhi dengan Cafe & Resto, serta mayoritas dipenuhi oleh Wisatawan Mancanegara, dengan pakaian yang seronok. anak saya sempat berkata, di kota nya aja pakaiannya seronok, apalagi di pantai........ dan ternyata terbukti....
Kami putuskan makan malam di Resto yang menghidangkan menu makanan Sea-food. Selesai makan, kami jalan-jalan kembali dengan andong yang berbeda dari yang berangkat. Kehidupan malam di Senggigi cukup menarik, dan Wisatawan Nusantara nya sangat disayangkan, tidak sebanyak di Bali. Padahal menurut saya, Lombok tidak kalah menarik & exotic dibanding Bali. kami kembali ke kamar pada pukul 12 malam, setelah puas jalan-jalan.
Ke-esok-an harinya, tanggal 18/04/2014, kami sengaja sarapan di resto lebih awal, itupun sudah dipenuhi oleh tamu-tamu di hotel, mungkin rencana mereka sama dengan kami, akan ke pulau sepagi mungkin, dan mayoritas penghuni hotel yang sarapan adalah orang-orang asing. Sesuai dengan waktu yang telah disepakati, pukul 08.00 waktu setempat, kami menuju ke pantai, oh ya, disamping hotel ada pelabuhan yang bisa dipakai untuk menyeberang ke pulau. Tetapi yang menarik, tidak ada penduduk atau penjual barang-barang cindera mata yang berani masuk di kawasan pantai Hotel Senggigi. Informasi yang saya dapat, penduduk setempat patuh terhadap larangan fihak hotel, karena fihak hotel menerapkan CSR (Coorporate Social Responsibility) untuk masyarakat sekitar dengan cukup baik.... Luar biasa, patut untuk dicontoh.
Kami sudah ditunggu oleh perahu yang kami sewa, sebelum berangkat, kami menyewa peralatan snorkeling lengkap di Senggigi. Perjalanan dari Pantai Senggigi ke Pulau Gili Trawangan, tujuan pulau pertama yang akan kita datangi memakan waktu sekitar 1 Jam. Sepanjang perjalanan, tiada hentinya kami mengagumi dan menikmati pemandangan pantai yang indah.......
Kami sampai di Pulau Gili Trawangan, seperti yang diduga oleh anak saya, pantai sisi barat, dipenuhi oleh turis wisatawan asing dengan tanpa pakaian, yang dengan merdekanya mereka berjemur dan berenang di pantai yang sangat indah dengan pasir putihnya yang menawan. Setelah capai berkeliling di Pulau Gili Trawangan, perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Gili Meno. Di pulau inipun, sama persis dengan pulau sebelumnya, penuh dengan turis asing yg sedang berjemur dan berenang di pantai. Keindahan pulau ??? jangan ditanya, sangat indah.........
Setelah berjalan-jalan di Pulau ini, perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Gili Air. Begitu mendarat, kami cari Resto tepi pantai untuk makan siang, dan kami sholat Jum'at. Unik, di ketiga pulau ini, tidak ada mobil dan motor. agar tidak ada polusi, patut di apresiasi kebijakan pemda setempat dengan larangan tersebut, jadi hanya ada sepeda dan andong untuk jalan-jalan di ketiga pulau tersebut.
Selesai Sholat Jum'at, lalu makan dan Snorkeling di Pulau Gili Air....
Sulit untuk melukiskan ke-indah-an Alam kita, sehingga tidak henti-hentinya saya mengagumi. Sangat ironis memang dengan sebagian masyarakat kita, yang bangga bisa jalan-jalan ke Luar Negeri, sementara Alam, Panorama dan keindahan di Negara sendiri tidak kalah menariknya dibandingkan dengan di Luar Negeri, bahkan menurut saya sangat luar biasa keindahan Alam di Negara Kita, yang patut kita syukuri.......
Tujuan yang sudah kami sepakati adalah Pulau Bali, kami sudah mencoba booking hotel di Kuta - Bali pada tanggal 17 sampai 20/04/2014. Dan hotel kami sudah mendapatkan konfirmasi ketersediaan kamarnya. Tetapi sayang, pada tanggal tersebut, seluruh penerbangan, baik Garuda, CitiLink, Lion Air, AirAsia dan Sriwijaya semua fully booked..... Luar biasa masyarakat Indonesia, jika menjelang liburan.... Padahal frekwensi penerbangan ke Denpasar - Bali sangat banyak.
Akhirnya, liburan kami alihkan ke Lombok. Dengan tujuan ke Senggigi, Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Hotel sudah kami booking via internet di "Senggigi Beach Hotel". Tetapi pesawat juga fully booked. Alhamdulillah kami mendapatkan 4 seat di Lion Air, kalau rejeki pasti tidak kemana..... Kami putuskan, keberangkatan tetap pada tanggal 17/04/2014 pagi. Tetapi kepulangannya kami rubah menjadi tanggal 19/04/2014 sore, mengingat padatnya penumpang.
Tanggal 17/04/2014 pagi pukul 05.00 WIB, kami sudah berangkat menuju Bandara Soetta untuk mengejar pesawat pukul 09.05 WIB. Seperti biasa, pesawat delay, dan kami mendarat di Bandara Praya - Mataram pada pukul 13.00 Wita. Oh iya, sebelum ke Lombok, saya sudah searching dan mencari tahu tentang biaya untuk penjemputan Bandara Praya ke Hotel di Senggigi, mengingat jarak nya yang cukup jauh. Karena fihak hotel tidak menyediakan Shuttle kendaraan untuk penjemputan. Serta mencari tahu biaya sewa perahu menuju pulan Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.
Melalui website, kami mempunyai pembanding biaya, akhirnya saya putuskan untuk minta dijemput oleh fihak hotel dengan mobil Avanza, dengan biaya jauh lebih mudah di banding yang lain. Dalam perjalanan, kami sempatkan mampir untuk makan siang di restoran Ayam Taliwang yang terkenal di Mataram.
Hotel & Resort di Senggigi Beach Hotel, adalah hotel pertama yang dibangun di pantai Senggigi (dibangun tahun 1987). Desain dan interior nya cukup bagus. setelah kami check-in, kami menuju ke ruangan / kamar yang kami booking, dengan pelayanan yang sangat ramah dan baik, kami juga mendapat kamar yang cukup baik & bersih.
Sesuai dengan itinerary / rencana perjalanan yang sudah kami buat dengan keluarga, setelah istirahat sejenak, kami jalan-jalan di sekitar hotel dan resort tersebut yang cukup luas. Dan kami bersenda gurau di Pantai Senggigi. Lalu kami coba tanya-tanya untuk sewa perahu ke Pulau Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air untuk esok hari. Kami rencana kan berangkat pagi dan kembali sore hari. Dan sekali lagi, kami mendapatkan sewa perahu yang jauh lebih murah, dibanding yang ada di website untuk perjalanan di Lombok. Kami tawar dan kami sepakat pada angka tertentu. Lalu kami habiskan waktu sore itu di pantai.
Malam hari, kami jalan-jalan di daerah Senggigi dengan menyewa andong. Sepanjang perjalanan, dipenuhi dengan Cafe & Resto, serta mayoritas dipenuhi oleh Wisatawan Mancanegara, dengan pakaian yang seronok. anak saya sempat berkata, di kota nya aja pakaiannya seronok, apalagi di pantai........ dan ternyata terbukti....
Kami putuskan makan malam di Resto yang menghidangkan menu makanan Sea-food. Selesai makan, kami jalan-jalan kembali dengan andong yang berbeda dari yang berangkat. Kehidupan malam di Senggigi cukup menarik, dan Wisatawan Nusantara nya sangat disayangkan, tidak sebanyak di Bali. Padahal menurut saya, Lombok tidak kalah menarik & exotic dibanding Bali. kami kembali ke kamar pada pukul 12 malam, setelah puas jalan-jalan.
Ke-esok-an harinya, tanggal 18/04/2014, kami sengaja sarapan di resto lebih awal, itupun sudah dipenuhi oleh tamu-tamu di hotel, mungkin rencana mereka sama dengan kami, akan ke pulau sepagi mungkin, dan mayoritas penghuni hotel yang sarapan adalah orang-orang asing. Sesuai dengan waktu yang telah disepakati, pukul 08.00 waktu setempat, kami menuju ke pantai, oh ya, disamping hotel ada pelabuhan yang bisa dipakai untuk menyeberang ke pulau. Tetapi yang menarik, tidak ada penduduk atau penjual barang-barang cindera mata yang berani masuk di kawasan pantai Hotel Senggigi. Informasi yang saya dapat, penduduk setempat patuh terhadap larangan fihak hotel, karena fihak hotel menerapkan CSR (Coorporate Social Responsibility) untuk masyarakat sekitar dengan cukup baik.... Luar biasa, patut untuk dicontoh.
Kami sudah ditunggu oleh perahu yang kami sewa, sebelum berangkat, kami menyewa peralatan snorkeling lengkap di Senggigi. Perjalanan dari Pantai Senggigi ke Pulau Gili Trawangan, tujuan pulau pertama yang akan kita datangi memakan waktu sekitar 1 Jam. Sepanjang perjalanan, tiada hentinya kami mengagumi dan menikmati pemandangan pantai yang indah.......
Kami sampai di Pulau Gili Trawangan, seperti yang diduga oleh anak saya, pantai sisi barat, dipenuhi oleh turis wisatawan asing dengan tanpa pakaian, yang dengan merdekanya mereka berjemur dan berenang di pantai yang sangat indah dengan pasir putihnya yang menawan. Setelah capai berkeliling di Pulau Gili Trawangan, perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Gili Meno. Di pulau inipun, sama persis dengan pulau sebelumnya, penuh dengan turis asing yg sedang berjemur dan berenang di pantai. Keindahan pulau ??? jangan ditanya, sangat indah.........
Setelah berjalan-jalan di Pulau ini, perjalanan kami lanjutkan ke Pulau Gili Air. Begitu mendarat, kami cari Resto tepi pantai untuk makan siang, dan kami sholat Jum'at. Unik, di ketiga pulau ini, tidak ada mobil dan motor. agar tidak ada polusi, patut di apresiasi kebijakan pemda setempat dengan larangan tersebut, jadi hanya ada sepeda dan andong untuk jalan-jalan di ketiga pulau tersebut.
Selesai Sholat Jum'at, lalu makan dan Snorkeling di Pulau Gili Air....
Sulit untuk melukiskan ke-indah-an Alam kita, sehingga tidak henti-hentinya saya mengagumi. Sangat ironis memang dengan sebagian masyarakat kita, yang bangga bisa jalan-jalan ke Luar Negeri, sementara Alam, Panorama dan keindahan di Negara sendiri tidak kalah menariknya dibandingkan dengan di Luar Negeri, bahkan menurut saya sangat luar biasa keindahan Alam di Negara Kita, yang patut kita syukuri.......
Kamis, April 10, 2014
PEMILIHAN LEGISLATIF 2014 - HARAPAN UTK TERPILIHNYA PRESIDEN BARU YANG AMANAH
Pemilihan Legislatif, jelang Pemilihan Umum untuk pemilihan Presiden tahun 2014. Berdasarkan edaran dari Menakertrans No. SE-2/Men/III/2014, tentang "Hari Libur bagi Pekerja pada pelaksanaan pemungutan suara untuk pemilihan umum Anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2014", yang jatuh pada tanggal 09 April 2014. Kami juga libur dan tutup kantor. Karena inilah momen bagi semua Warga Negara atau masyarakat Indonesia, untuk memilih Calon-calon Anggota Legislatif menuju Pemilihan Presiden yang Baru, yang diharapkan adalah pemimpin yang Amanah, yang mampu membawa negara kita pada kondisi yang jauh lebih baik. Menjadi Negara yang Insya Allah, bisa menjadi Negara yang Adidaya, dan rakyat nya sejahtera, dengan tetap berharap, pendidikan sampai jenjang S-1 dan pelayanan Kesehatan terhadap masyarakat di GRATIS kan. Mengingat Sumber Daya Alam kita yang melimpah, yang seharusnya dimanfaatkan sebesar-besar untuk kesejahteraan rakyat.
Pagi hari, pada tanggal tersebut, saya sudah siap-siap dan datang ke TPS setempat. Oh iya, saat ini saya dalam penugasan pekerjaan di pulau lain, yang jauh dari keluarga, sehingga berbekal KTP & Formulir C-6 yang dikirim oleh istri saya via BBM, Saya percaya diri menuju TPS, tempat saya berdomisili.
Sangat disayangkan, setelah saya informasikan pada petugas pendaftaran di TPS tersebut, saya diminta untuk bicara dengan ketua TPS, yang intinya, "Saya tidak bisa menggunakan Hak Pilih Saya". Saya sangat kecewa, dan saya berargumentasi, bahwa ada aturan yang mengijinkan kita bisa memilih di lokasi bukan tempat tinggal kita. Tetapi tetap tidak bisa, akhirnya dengan kecewa, dan dengan suara keras, saya sampaikan bahwa, saya akan masukkkan ke Surat Pembaca di surat kabar. Mereka mempersilahkan untuk saya melapor.
Ironis, disatu sisi, Pemerintah meminta warga negaranya untuk menggunakan hak pilihnya, disisi lain, Implementasi dilapangannya tidak sesuai dengan harapan.
Dan saya membaca "running Text" di 2 televisi swasta, yang menyatakan bahwa, salah satu propinsi yang daftar pemilihnya berantakan, adalah propinsi Kepri. Sangat disayangkan.
Tetapi sebagai Warga Negara, saya tetap berharap, kedepan nya Indonesia bisa mendapatkan Pemimpin Baru yang amanah, yang membawa kita pada suatu perubahan yang jauh lebih baik untuk Masyarakat nya...... Amiiinnn.
Pagi hari, pada tanggal tersebut, saya sudah siap-siap dan datang ke TPS setempat. Oh iya, saat ini saya dalam penugasan pekerjaan di pulau lain, yang jauh dari keluarga, sehingga berbekal KTP & Formulir C-6 yang dikirim oleh istri saya via BBM, Saya percaya diri menuju TPS, tempat saya berdomisili.
Sangat disayangkan, setelah saya informasikan pada petugas pendaftaran di TPS tersebut, saya diminta untuk bicara dengan ketua TPS, yang intinya, "Saya tidak bisa menggunakan Hak Pilih Saya". Saya sangat kecewa, dan saya berargumentasi, bahwa ada aturan yang mengijinkan kita bisa memilih di lokasi bukan tempat tinggal kita. Tetapi tetap tidak bisa, akhirnya dengan kecewa, dan dengan suara keras, saya sampaikan bahwa, saya akan masukkkan ke Surat Pembaca di surat kabar. Mereka mempersilahkan untuk saya melapor.
Ironis, disatu sisi, Pemerintah meminta warga negaranya untuk menggunakan hak pilihnya, disisi lain, Implementasi dilapangannya tidak sesuai dengan harapan.
Dan saya membaca "running Text" di 2 televisi swasta, yang menyatakan bahwa, salah satu propinsi yang daftar pemilihnya berantakan, adalah propinsi Kepri. Sangat disayangkan.
Tetapi sebagai Warga Negara, saya tetap berharap, kedepan nya Indonesia bisa mendapatkan Pemimpin Baru yang amanah, yang membawa kita pada suatu perubahan yang jauh lebih baik untuk Masyarakat nya...... Amiiinnn.
Langganan:
Postingan (Atom)






.jpg)




=_2.jpg)
%E2%99%A5.jpg)