Kamis, Mei 28, 2015

RENUNGAN PAGI HARI



Saya dan anak-anakku...

RENUNGAN PAGI HARI

Ijin share dari blog yang lain....
 
“ Goblok kamu ya…” Kata Suamiku sambil melemparkan buku Raport sekolah Doni. Kulihat suamiku berdiri dari tempat duduknya dan kemudian dia menarik kuping Doni dengan keras. Doni meringis. Tak berapa lama Suamiku pergi kekamar dan keluar kembali membawa penepuk nyamuk. Dengan garang suamiku memukul Doni berkali kali dengan penepuk nyamuk itu. Penepuk nyamuk itu diarahkan kekaki, kemudian ke punggung dan terus , terus. Doni menangis “ Ampun, ayah ..ampun ayah..” Katanya dengan suara terisak isak. Wajahnya memancarkan rasa takut. Dia tidak meraung. Doni ku tegar dengan siksaan itu. Tapi matanya memandangku. Dia membutuhkan perlindunganku. Tapi aku tak sanggup karena aku tahu betul sifat suamiku.
“Lihat adik adikmu. Mereka semua pintar pintar sekolah. Mereka rajin belajar. Ini kamu anak tertua malah malas dan tolol Mau jadi apa kamu nanti ?. Mau jadi beban adik adik kamu ya…he “ Kata suamiku dengan suara terengah engah kelelahan memukul Doni. Suamiku terduduk dikorsi. Matanya kosong memandang kearah Doni dan kemudian melirik kearah ku “ Kamu ajarin dia. Aku tidak mau lagi lihat lapor sekolahnya buruk. Dengar itu. “ Kata suamiku kepadaku sambil berdiri dan masuk kekamar tidur.
Kupeluk Doni. Matanya memudar. Aku tahu dengan nilai Raport buruk dan tidak naik kelas saja dia sudah malu apalagi di maki maki dan dimarahi didepan adik adiknya. Dia malu sebagai anak tertua. Kembali matanya memandangku. Kulihat dia butuh dukunganku. Kupeluk Doni dengan erat “ Anak bunda, tidak tolol. Anak bunda pintar kok. Besok ya rajin ya belajarnya”
“ Doni udah belajar sungguh sungguh, bunda, Bunda kan lihat sendiri. Tapi Doni memang engga pintar seperti Ruli dan Rini. Kenapa ya Bunda” Wajah lugunya membuatku terenyuh.. Aku menangis “ Doni, pintar kok. Doni kan anak ayah. Ayah Doni pintar tentu Doni juga pintar. “
“ Doni bukan anak ayah.” Katanya dengan mata tertunduk “ Doni telah mengecewakan Ayah, ya bunda “
Malamnya , adiknya Ruli yang sekamar dengannya membangunkan kami karena ketakutan melihat Doni menggigau terus. Aku dan suamiku berhamburan kekamar Doni. Kurasakan badannya panas.Kupeluk Doni dengan sekuat jiwaku untuk menenangkannya. Matanya melotot kearah kosong. Kurasakan badannya panas. Segera kukompres kepalanya dan suamiku segera menghubungi dokter keluarga. Doni tak lepas dari pelukanku “ Anak bunda, buah hati bunda, kenapa sayang. Ini bunda,..” Kataku sambil terus membelai kepalanya. Tak berapa lama matanya mulai redup dan terkulai. Dia mulai sadar. Doni membalas pelukanku. ‘ Bunda, temani Doni tidur ya." Katanya sayup sayup. Suamiku hanya menghelap nafas. Aku tahu suamiku merasa bersalah karena kejadian siang tadi.
Doni adalah putra tertua kami. Dia lahir memang ketika keadaan keluarga kami sadang sulit. Suamiku ketika itu masih kuliah dan bekerja serabutan untuk membiayai kuliah dan rumah tangga. Ketika itulah aku hamil Doni. Mungkin karena kurang gizi selama kehamilan tidak membuat janinku tumbuh dengan sempurna. Kemudian , ketika Doni lahir kehidupan kami masih sangat sederhana. Masa balita Doni pun tidak sebaik anak anak lain. Diapun kurang gizi. Tapi ketika usianya dua tahun, kehidupan kami mulai membaik seiring usainya kuliah suamiku dan mendapatkan karir yang bagus di BUMN. Setelah itu aku kembali hamil dan Ruli lahir., juga laki laki dan dua tahu setelah itu, Rini lahir, adik perempuannya. Kedua putra putriku yang lahir setelah Doni mendapatkan lingkungan yang baik dan gizi yang baik pula. Makanya mereka disekolah pintar pintar. Makanya aku tahu betul bahwa kemajuan generasi ditentukan oleh ketersediaan gixi yang cukup dan lingkungan yang baik.
Tapi keadaan ini tidak pernah mau diterima oleh Suamiku. Dia punya standard yang tinggi terhadap anak anaknya. Dia ingin semua anaknya seperti dia. Pintar dan cerdas. “ Masalah Doni bukannya dia tolol, Tapi dia malas. Itu saja. “ Kata suamiku berkali kali. Seakan dia ingin menepis tesis tentang ketersediaan gizi sebagai pendukung anak jadi cerdas. “ Aku ini dari keluarga miskin. Manapula aku ada gizi cukup. Mana pula orang tuaku ngerti soal gixi. Tapi nyatanya aku berhasil. “ Aku tak bisa berkata banyak untuk mempertahankan tesisku itu.
Seminggu setelah itu, suamiku memutuskan untuk mengirim Doni kepesantren. AKu tersentak.
“ Apa alasan Mas mengirim Doni ke Pondok Pesantren “
“ Biar dia bisa dididik dengan benar”
“ Apakah dirumah dia tidak mendapatkan itu”
“ Ini sudah keputusanku, Titik.
“ tapi kenapa , Mas” AKu berusaha ingin tahu alasan dibalik itu.
Suamiku hanya diam. Aku tahu alasannya.Dia tidak ingin ada pengaruh buruk kepada kedua putra putri kami. Dia malu dengan tidak naik kelasnya Doni. Suamiku ingin memisahkan Doni dari adik adiknya agar jelas mana yang bisa diandalkannya dan mana yang harus dibuangnya. Mungkinkah itu alasannya. Bagaimanapun , bagiku Doni akan tetap putraku dan aku akan selalu ada untuknya. Aku tak berdaya. Suamiku terlalu pintar bila diajak berdebat.
Ketika Doni mengetahui dia akan dikirim ke Pondok Pesantren, dia memandangku. Dia nanpak bingung. Dia terlalu dekat denganku dan tak ingin berpisah dariku.
Dia peluk aku “ Doni engga mau jauh jauh dari bunda” Katanya.
Tapi seketika itu juga suamiku membentaknya “ Kamu ini laki laki. TIdak boleh cengeng. Tidak boleh hidup dibawah ketika ibumu. Ngerti. Kamu harus ikut kata Ayah. Besok Ayah akan urus kepindahan kamu ke Pondok Pesantren. “
Setelah Doni berada di Pondok Pesantren setiap hari aku merindukan buah hatiku. Tapi suamiku nampak tidak peduli. “ Kamu tidak boleh mengunjunginya di pondok. Dia harus diajarkan mandiri. Tunggu saja kalau liburan dia akan pulang” Kata suamiku tegas seakan membaca kerinduanku untuk mengunjungi Doni.
Tak terasa Doni kini sudah kelas 3 Madrasa Aliyah atau setingkat SMU. Ruli kelas 1 SMU dan Rini kelas 2 SLP. Suamiku tidak pernah bertanya soal Raport sekolahnya. Tapi aku tahu raport sekolahnya tak begitu bagus tapi juga tidak begitu buruk. Bila liburan Doni pulang kerumah, Doni lebih banyak diam. Dia makan tak pernah berlebihan dan tak pernah bersuara selagi makan sementara adiknya bercerita banyak soal disekolah dan suamiku menanggapi dengan tangkas untuk mencerahkan. Walau dia satu kamar dengan adiknya namun kamar itu selalu dibersihkannya setelah bangun tidur. Tengah malam dia bangun dan sholat tahajud dan berzikir sampai sholat subuh.
Ku purhatikan tahun demi tahu perubahan Doni setelah mondok. Dia berubah dan berbeda dengan adik adiknya. Dia sangat mandiri dan hemat berbicara. Setiap hendak pergi keluar rumah, dia selalu mencium tanganku dan setelah itu memelukku. Beda sekali dengan adik adiknya yang serba cuek dengan gaya hidup modern didikan suamiku.
Setamat Madrasa Aliyah, Doni kembali tinggal dirumah. Suamiku tidak menyuruhnya melanjutkan ke Universitas. “ Nilai rapor dan kemampuannya tak bisa masuk universitas. Sudahlah. Aku tidak bisa mikir soal masa depan dia. Kalau dipaksa juga masuk universitas akan menambah beban mentalnya. “ Demikian alasan suamiku. Aku dapat memaklumi itu. Namun suamiku tak pernah berpikir apa yang harus diperbuat Doni setelah lulus dari pondok. Donipun tidak pernah bertanya. Dia hanya menanti dengan sabar.
Selama setahun setelah Doni tamat dari mondok, waktunya lebih banyak di habiskan di Masjid. Dia terpilih sebagai ketua Remaja Islam Masjid. Doni tidak memilih Masjid yang berada di komplek kami tapi dia memilih masjid diperkampungan yang berada dibelakang komplek. Mungkin karena inilah suamiku semakin kesal dengan Doni karena dia bergaul dengan orang kebanyakan. Suamiku sangat menjaga reputasinya dan tak ingin sedikitpun tercemar. Mungkin karena dia malu dengan cemoohan dari tetangga maka dia kadang marah tanpa alasan yang jelas kepada Doni. Tapi Doni tetap diam. Tak sedikitpun dia membela diri.
Suatu hari yang tak pernah kulupakan adalah ketika polisi datang kerumahku. Polisi mencurigai Doni dan teman temannya mencuri di rumah yang ada di komplek kami. Aku tersentak. Benarkah itu. Doni sujud dikaki ku sambil berkata “ Doni tidak mencuri , Bunda. TIdak, Bunda percayakan dengan Doni. Kami memang sering menghabiskan malam di masjid tapi tidak pernah keluar untuk mencuri.” Aku meraung ketika Doni dibawa kekantor polisi. Suamiku dengan segala daya dan upaya membela Doni. Alhamdulilah Doni dan teman temannya terbebaskan dari tuntutan itu. Karena memang tidak ada bukti sama sekali. Mungkin ini akibat kekesalan penghuni komplek oleh ulah Doni dan kawan kawan yang selalu berzikir dimalam hari dan menggangu ketenangan tidur.
Tapi akibat kejadian itu , suamiku mengusir Doni dari rumah. Doni tidak protes. Dia hanya diam dan menerima keputusan itu. Sebelum pergi dia rangkul aku” Bunda , Maafkanku. Doni belum bisa berbuat apapun untuk membahagiakan bunda dan Ayah. Maafkan Doni “ Pesanya. Diapun memandang adiknya satu satu. Dia peluk mereka satu persatu “ Jaga bunda ya. Mulailah sholat dan jangan tinggalkan sholat. Kalian sudah besar .” demikian pesan Doni. Suamiku nampak tegar dengan sikapnya untuk mengusir DOni dari rumah.
“ Mas, Dimana Doni akan tinggal. “ Kataku dengan batas kekuatan terakhirku membela Doni.
“ Itu bukan urusanku. Dia sudah dewasa. Dia harus belajar bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.
***
Tak terasa sudah enam tahun Doni pergi dari Rumah. Setiap bulan dia selalu mengirim surat kepadaku. Dari suratnya kutahu Doni berpindah pindah kota. Pernah di Bandung, Jakarta, Surabaya dan tiga tahun lalu dia berangkat ke Luar negeri. Bila membayangkan masa kanak kanaknya kadang aku menangis. Aku merindukan putra sulungku. Setiap hari kami menikmati fasilitas hidup yang berkecukupan. Ruli kuliah dengan kendaraan bagus dan ATM yang berisi penuh. Rinipun sama. Karir suamiku semakin tinggi. Lingkungan social kami semakin berkelas. Tapi, satu putra kami pergi dari kami. Entah bagaimana kehidupannya. Apakah dia lapar. Apakah dia kebasahan ketika hujan karena tidak ada tempat bernaung. Namun dari surat Doni , aku tahu dia baik baik saja. Dia selalu menitipkan pesan kepada kami, “ Jangan tinggalkan sholat. Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita siang dan malam. “
***
Prahara datang kepada keluarga kami. Suamiku tersangkut kasus Korupsi. Selama proses pemeriksaan itu suamiku tidak dibenarkan masuk kantor. Dia dinonaktifkan. Selama proses itupula suamiku nampak murung. Kesehatannya mulai terganggu. Suamiku mengidap hipertensii. Dan puncaknya , adalah ketika Polisi menjemput suamiku di rumah. Suamiku terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Rumah dan semua harta yang selama ini dikumpulkan disita oleh negara. Media maassa memberitakan itu setiap hari. Reputasi yang selalu dijaga oleh suamiku selama ini ternyata dengan mudah hancur berkeping keping. Harta yang dikumpul, sirna seketika. Kami sekeluarga menjadi pesakitan. Ruli malas untuk terus keliah karena malu dengan teman temannya. Rini juga sama yang tak ingin terus kuliah.
Kini suamiku dipenjara dan anak anak jadi bebanku dirumah kontrakan. Ya walau mereka sudah dewasa namun mereka menjadi bebanku. Mereka tak mampu untuk menolongku. Baru kutahu bahwa selama ini kemanjaan yang diberikan oleh suamiku telah membuat mereka lemah untuk survival dengan segala kekurangan. Maka jadilah mereka bebanku ditengah prahara kehidupan kami. Pada saat inilah aku sangat merindukan putra sulungku. Ditengah aku sangat merindukan itulah aku melihat sosok pria gagah berdiri didepan pintu rumah.
Doniku ada didepanku dengan senyuman khasnya. Dia menghambur kedalam pelukanku. “ Maafkan aku bunda, Aku baru sempat datang sekarang sejak aku mendapat surat dari bunda tentang keadaan ayah. “ katanya. Dari wajahnya kutahu dia sangat merindukanku. Rini dan Ruli juga segera memeluk Doni. Mereka juga merindukan kakaknya. Hari itu, kami berempat saling berpelukan untuk meyakinkan kami akan selalu bersama sama.
Kehadiran Doni dirumah telah membuat suasana menjadi lain. Dengan bekal tabungannya selama bekerja diluar negeri, Doni membuka usaha percetakan dan reklame. Aku tahu betul sedari kecil dia suka sekali menggambar namun hobi ini selalu di cemoohkan oleh ayahnya. Doni mengambil alih peran ayahnya untuk melindungi kami. Tak lebih setahu setelah itu, Ruli kembali kuliah dan tak pernah meninggalkan sholat dan juga Rini. Setiap maghrib dan subuh Doni menjadi imam kami sholat berjamaah dirumah. Seusai sholat berjaman Doni tak lupa duduk bersilah dihadapan kami dan berbicara dengan bahasa yang sangat halus , beda sekali dengan gaya ayahnya
“ Manusia tidak dituntut untuk terhormat dihadapan manusia tapi dihadapan Allah. Harta dunia, pangkat dan jabatan tidak bisa dijadikan tolok ukur kehormatan. Kita harus berjalan dengan cara yang benar dan itulah kunci meraih kebahagiaan dunia maupun akhirat. Itulah yang harus kita perjuangkan dalam hidup agar mendapatkan kemuliaan disisi Allah. . Dekatlah kepada Allah maka Allah akan menjaga kita. Apakah ada yang lebih hebat menjaga kita didunia ini dibandingkan dengan Allah. “
“ Apa yang menimpa keluarga kita sekarang bukanlan azab dari Allah. Ini karena Allah cinta kepada Ayah. Allah cinta kepada kita semua karena kita semua punya peran hingga membuat ayah terpuruk dalam perbuatan dosa sebagai koruptor. Allah sedang berdialogh dengan kita tentang sabar dan ikhlas, tentang hakikat kehidupan, tentang hakikat kehormatan. Kita harus mengambil hikmah dari ini semua untuk kembali kepada Allah dalam sesal dan taubat. Agar bila besok ajal menjemput kita, tak ada lagi yang harus disesalkan, Karna kita sudah sangat siap untuk pulang keharibaan Allah dengan bersih. “
Seusai Doni berbicara , aku selalu menangis. Doni yang tidak pintar sekolah, tapi Allah mengajarinya untuk mengetahui rahasia terdalam tentang kehidupan dan dia mendapatkan itu untuk menjadi pelindung kami dan menuntun kami dalam taubah. Ini jugalah yang mempengaruhi sikap suamiku dipenjara. Kesehatannya membaik. Darah tingginya tak lagi sering naik. Dia ikhlas dan sabar , dan tentu karena dia semakin dekat kepada Allah. Tak pernah tinggal sholat sekalipun. Zikir dan linangan airmata sesal akan dosanya telah membuat jiwanya tentram. Mahasuci Allah , terimakasih anakku...

PERJALANAN MENYUSURI SUNGAI MUSI ( SUMBAGSEL )



Suatu hari dalam penugasan saya di Palembang, ada tamu dari salah satu Perusahaan  di Jakarta, didampingi oleh orang Asing, yang belakangan saya tahu berasal dari Kota New York (USA).
Mereka meminta bantuan pada kami untuk me-review hasil Film RT dalam rangka untuk recruitment karyawan (Welder), untuk mencari perbandingan hasil RT nya.

 
Perjalanan yang pertama

Selanjutnya orang asing tersebut bertanya banyak hal mengenai Perusahaan tempat saya bekerja. Banyak hal yang saya sampaikan, termasuk memberikan Company Profile Perusahaan. Membuat dia terkesima dan bertanya “ The fact you have the NDE Lab located in Palembang, 40 years in the business, and the largest NDE Company in Indonesia, makes me wonder why your Company has not been considered for Our Project ??”
Lalu sesuai dengan kesepakatan, saya mengirim email perkenalan ke dia mengenai kebutuhan akan pekerjaan di project mereka, tak lupa juga saya attach Company Profile – soft copy nya. Gayungpun bersambut, setelah disepakati waktunya, kamipun  melakukan kunjungan ke Lokasi project mereka di tanggal 05/05/2015 untuk presentasi dan memperkenalkan Perusahaan kami dengan line of business nya dihadapan para orang asing, yang mayoritas dari USA. Dengan menggunakan transportasi Speed Boat, perjalanan  lebih dari 1,5 jam menyusuri Sungai Musi lalu ke sungai Baung (Sumbagsel), akhirnya kami sampai di lokasi mereka, dijemput dengan Bus yang mewah, sungguh, ini benar-benar di hutan…… tapi dengan fasilitas yang layak. Nampak dikejauhan, Masjid sedang dibangun, dan ada musholla juga.
Setelah selesai melakukan presentasi di kantor mereka, yang katanya pembangunan nya baru sekitar 30%, dan memakan biaya sekitar 34 Trilyun, kami diajak keliling ke lokasi project raksasa mereka, yang sangat luas dan besar. Mereka begitu respect pada kami, dan meminta kami untuk melakukan presentasi kembali sekaligus demonstrasi alat yang mereka butuhkan.


Minggu berikutnya (Tanggal 12/05/2015), sesuai kesepakatan, kami melakukan kunjungan dan perjalanan kembali ke lokasi mereka (one day trip). Sangat melelahkan ditambah cuaca yang sangat ekstrem teriknya, sehingga debu berterbangan dengan liarnya….. Tetapi membuat kami cukup senang. Kalaupun saat ini kami tidak berhasil mendapatkan project nya, tetapi minimal kami sudah berupaya dan membuat mereka begitu respect terhadap kinerja, presentasi dan demontrasi alat kita yang tidak hanya di ruang meeting, tetapi juga dilapangan. Dan semuanya no-charge.
Harapan saya ( sambil menunggu pekerjaan ini di Tender kan ), selama kita berusaha dengan baik, pasti akan ada jalan. Semoga…. Bismillah...

Kamis, April 16, 2015

PERJALANAN KE MEDAN DAN ACEH



Perjalanan berikut nya yang harus saya lakukan adalah ke Aceh dan Medan. Saya berangkat hari minggu tanggal 22 Maret 2015, dengan pesawat Garuda, dari Palembang Tujuan Medan.
Semua berjalan dengan sesuai rencana. Dan mendarat dengan selamat di Bandara Kuala Namu pada sore hari. Dan setelah istirahat sejenak, saya naik taksi dari bandara menuju kota Medan, dimana saya menginap di Hotel Santika Dyandra & Convention Hotel.

 
Setelah reservasi dan check-in selesai, saya bertanya masalah channel televise, karena malam hari nya aka nada pertandingan sepakbola liga Inggris, dimana Team kesayangan saya, yaitu Liverpool akan menjamu MU di stadion Anfiled. Ternyata di salah satu Ruang Meeting di Hotel tersebut, aka nada Nonton Bareng, dengan tiket yang relative terjangkau, yaitu Rp. 30,000.-
Setelah mandi dan makan malam, maka sesuai rencana saya menonton pertandingan Liga Inggris tersebut, saying, team kesayangan saya kalah 1 -2. Pertandingan belum selesai, saya sudah kembali ke kamar, malas menonton nya. Untuk kemudian tidur, karena ke-esok-an hari nya, anak-anak buah saya akan menjemput di Hotel pukul 07.00 WIB untuk melakukan perjalanan dinas ke Aceh Tamiang.
Sesuai rencana, saya dijemput pukul 07.00 oleh staff saya. Oh ya, anak-anak buah saya, dari Palembang ke Medan dengan membawa kendaraan Ford Everest, karena harus langsung bekerja di Rantau (Aceh – Tamiang). Membutuhkan waktu sekitar 3 hari 2 malam untuk mencapai Medan, karena saya tidak mengijinkan mereka untuk melakukan perjalanan di malam hari.
Perjalanan dari Medan menuju Aceh Tamiang membutuhkan waktu sekitar  5 Jam. Sampai di Rantau, sekitar pukul 12.00 WIB, kami makan siang dan sholat di Masjid PT.Pertamina Asset 1 EP Rantau. Pukul 14.00 kami meeting dengan client, sekaligus anak-anak buah membuat surat ijin kerja dan lain-lain. Lalu kami juba meeting di PDSI. Setelah selesai semuanya, saya memutuskan untuk kembali ke Medan dengan menggunakan Travel. Karena jika saya diantar oleh anak buah, sampai Medan, sementara ke-esokkan hari nya mereka harus bekerja di lokasi Rantau, terlalu lelah. Dan saya kasihan kepada mereka, sehingga saya putuskan untuk naik Travel saja.
Saya bersyukur, karena tidak menunggu lama, sudah ada Kijang Kapsul yang akan mengantar saya ke Medan, ada 4 penumpang didalam. Perjalanan sangat lancar, dan membutuhkan waktu hanya 2,5 Jam perjalanan !!!!! dari Aceh Tamiang menuju Hotel di Kota Medan.
Ke-esok-an harinya, hari Selasa pada tanggal 24 Maret 2015, saya dijemput oleh Client untuk menuju Pematang Siantar. Serta diajak berkeliling kota, dan diantar ke parapat, Danau Toba. Karena cuaca yang tidak mendukung dan hujan lebat, kami tidak jadi nyebrang ke Pulau Samosir. Tetapi singgah di tempat peristirahatan Presiden pertama RI, saat dibuang oleh Belanda ke Parapat, yaitu Bung Karno, beserta Sutan Syahrir dan KH Agus Salim. Didampingi oleh Juru Kunci nya yang asli Sumatera Barat (Sdr. Zamzani), kami dijelaskan dan diceritakan semua hal terkait dengan tempat peristirahatan tersebut.
Rekan saya yang asli Siantar, dan sudah puluhan kami ke Danau Toba, belum pernah sekalipun bisa masuk ke Rumah Peristirahatan tersebut, baru kami ini bisa masuk. Rejeki saya ??. entahlah. Malam nya kami turun ke Siantar, dan saya diantar ke Medan oleh rekan saya tersebut. Setelah sampai di Medan, rekan saya juga menginap di Hotel yang sama, untuk ke-esok-an hari nya mengantar saya ke Bandara Kuala Namu, untuk kembali ke Palembang.
Thanks guys…..

PERJALANAN DARI PALEMBANG KE RAMBA - JAMBI - LIRIK


Memulai penugasan di Cabang Palembang, saya harus berkenalan dengan user dari semua Client, mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai ke Lampung. Sekaligus silaturahim dengan mereka dan mencari Opportunity Project.


Setelah saya mapping, perjalanan pertama yang saya lakukan adalah ke Jambi, dan sekitar nya, lalu menuju Lirik dan sekitarnya. Jarak antara Palembang ke Lirik, jika langsung membutuhkan waktu perjalanan darat sekitar 14 jam …..
Setelah sampai Jambi, dan setelah mengunjungi 3 Client di lokasi yang berbeda, kami menginap di salah satu hotel terkemuka di kota Jambi. Ssaya didampingi oleh salah seorang anak buah, yang mengerti lokasi dan kenal dengan Client-Client yang akan saya temui. Untuk mempermudah hubungan saya dengan Client.
Ke-esok-an hari nya, pagi hari, setelah sarapan, kami langsung meluncur ke Lirik, berbeda dengan perjalanan dari Palembang ke Jambi, Perjalanan dari Jambi ke Lirik, sangat nyaman, karena jalanannya yang relative mulus, dan berliku-liku, dengan pemandangan yang indah.


Membutuhkan waktu sekitar 6 Jam dari Jambi ke Lirik, lalu kemudian, sesuai dengan janji, kami meeting dengan client, sekaligus silaturahmi dan berkenalan. Setelah selesai, kami langsung tancap gas kembali ke Jambi. Sayangnya di perjalanan, kami lupa untuk mencicipi Durian yang banyak dijual di sepanjang perjalanan, khusus nya disaat akan masuk disetiap kota kecamatan.
Sampai di jambi, kami langsung istirahat di hptel, karena perjalanan berikut di keesokan hari nya sudah menanti, untuk mengunjungi Client, dan setelah itu kembali ke Palembang. Sungguh lelah, tetapi cukup menyenangkan.

Kamis, April 02, 2015

MEMULAI PENUGASAN DI CABANG PALEMBANG



Tanggal 12 Februari 2015, saya Start untuk memulai aktifitas di Cabang Palembang, banyak hal baru yang harus saya pelajari. Seperti harus mapping Clientsegala typical nya, lalu proses tender, dan lain-lain. 

Diawal penugasan ini, seperti  juga di penugasan pada cabang yang lain, sambil mencari rumah untuk tempat tinggal, saya menginap di hotel berbintang di kota Palembang, agar tidak jenuh, saya berpindah dari satu hotel ke hotel lain nya, agar berganti suasana. Dan akhirnya saya mendapatkan tempat tinggal yang lumayan baik dengan suasana yang juga baik.

Hal yang menarik lainnya adalah, sesuai dengan spesifikasi dari bisnis Perusahaan di kantor saya, dimana jika saat di Cabang Batam, khususnya  di Pulau Batam, banyak pekerjaan yang terkait dengan Inspeksi, karena di Pulau tersebut banyak terdapat perusahaan yang bergerak di bidang Fabrikasi. Tetapi di Cabang Palembang, mayoritas pekerjaan inspeksi berada  di luar kota, yang terdekat adalah di Prabumulih, dengan jarak perjalanan darat dengan memakai kendaraan dari kota Palembang membutuhkan waktu 2 sampai 3 jam. Dan yang terjauh adalah di Rantau – Nanggroe Aceh Darussalam, jika melalui perjalanan darat membutuhkan waktu sekitar 3 hari 2 malam….

Cakupan area untuk di Cabang Palembang lebih luas, karena dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai ke Lampung. Sementara cakupan Cabang Batam, hanya pada Propinsi Kepri sampai Asia Tenggara.
Seperti saat memimpin di Cabang Duri (Dari tahun 2010 sampai akhir tahun 2011), juga Cabang Batam (Dari akhir tahun 2011 sampai Februari 2015), di Palembang pun, penugasan saya karena ada temuan Audit yang memaksa beberapa orang di cabang tersebut harus mundur. Dan saya ditugaskan untuk melakukan recovery dan menaikkan kembali sales dan performance dari Cabang- cabang tersebut.

Bukan hal yang mudah, karena semua nya harus dimulai dari NOL, jika memang bisa dikatakan demikian. Tetapi, sekali lagi, bagi saya, Penugasan adalah bagian dari Profesionalisme kerja, yang harus saya jalani.
Penugasan kerja yang jauh dari keluarga, bukanlah hal yang mudah, tetapi semua saya jalani dengan ikhlas. Beruntung saya memiliki Istri dan anak-anak yang baik.
Love you Mama, Mas and Ade……..

Minggu, Februari 15, 2015

PENUGASAN KE CABANG LAIN

Awal bulan November 2014, saya mendengar berita bahwa di Cabang Palembang ada sedikit masalah terkait dengan hasil temuan Internal Audit. Saya cukup prihatin. Tetapi saat itu saya masih fokus di Cabang Batam.
Akhir November 2014, saya di telepon oleh President Direktur Kantor kami, untuk menghadiri Meeting di Jakarta, yang akan dihadiri hanya oleh Board of Director, artinya meeting secara terbatas
Sesuai dengan tanggal yang disepakati, saya hadir ke Jakarta untuk meeting. Feeling saya sudah yakin, bahwa materi yang akan dibahas adalah mengenai Cabang Palembang.... Ternyata dugaan saya tidak meleset.


Saya diminta oleh Direksi untuk memegang & memimpin dua cabang, yaitu Batam & Palembang. Saat itu dengan tegas, saya menolak. Alasan saya, saya bukan "Superman", tidak mungkin saya hadir di dua lokasi yang sama pada saat yang bersamaan....


Alasan Direksi menugaskan saya untuk memegang dua Cabang, adalah karena di masing-masing cabang sudah ada Deputy, jadi beban Head of Branch, tidak terlalu berat, hanya meng-edukasi & meng-encourage di kedua cabang, dan harus bolak-balik di kedua cabang tersebut.
Saya tetap menolak, karena, sekali lagi, yang memegang Akte Notaris & Akte Kuasa, hanya ada di Head of Branch, untuk menanda-tangani Invoice, Pembayaran Pph 21 & 23, BPJS, dll. yang hanya boleh ditanda-tangani oleh Head of Branch. Sehingga saya tidak bisa hadir di dua lokasi pada saat yang bersamaan.
Akhirnya "Deal", saya harus bertugas di Cabang Palembang, dan saya minta per Awal Februari-2015. Artinya selama bulan Desember-2014 sampai akhir January-2015, saya harus memegang 2 Cabang. Dan saya berjanji, akan bolak-balik ke Palembang, selama 2 bulan tersebut, untuk memetakan serta meng-identifikasi masalah - masalah yang ada, sebagai bahan untuk tindakan perbaikan.


Bagi saya, penugasan adalah bagian dari Profesionalisme. Sehingga tidak ada alasan untuk menolak penugasan apapun....